satinah1Jakarta, LiputanIslam.com — Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menjamin pemerintah berupaya keras membebaskan Satinah dari hukuman pancung. Tim yang dipimpin Maftuh Basyuni melakukan perundingan dengan keluarga eks majikan Satinah untuk pembayaran diyat.

“Proses deadline tidak pernah ada tanggal persis. Seperti yang saya sampaikan, pembahasan masih berlangsung,” kata juru bicara Kemlu, Michael Tene saat dikonfirmasi media, Rabu (2/4).

Menurut Tene, soal batas waktu itu, seperti disampaikan Pemerintah Saudi, mereka mempersilakan kepada keluarga Satinah untuk melakukan perundingan pembayaran Diyat dengan keluarga korban.

“Yang jelas prosesnya masih berlangsung, pemintaan maaf untuk uang diyat,” jelasnya.

Satinah, TKI asal Ungaran Barat, Semarang terancam hukuman mati atas tindakan bela diri dari siksaan majikan yang bernama Nurah binti Muhammad Al Gharib pada 2006 lalu. Kejadian kematian majikan Satinah berawal dari Satinah sedang memasak di dapur, tiba-tiba majikan berteriak memanggilnya.

Dan ketika Satinah mendekat majikan menjambak rambut Satinah dan hendak membenturkan kepala Satinah ke tembok. Satinah berusaha melawan dan akhirnya meraih adonan roti. Dalam keadaan kesakitan dan panik, ia memukulkan adonan roti ke tengkuk majikan. Majikan tak sadarkan diri dan ia membawa majikan ke kamar lalu ia menyerahkan diri ke kantor polisi terdekat.

Satinah dipenjara pada tahun 2009 dan disidang selama lima kali. Hingga akhirnya Satinah terancam eksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi. Pemerintah kemudian melakukan lobi dan hukuman mati yang divonis kepada Satinah bisa diubah menjadi dimaafkan apabila mendapat maaf dari keluarga. Kabarnya pada 3 April ini batas pembayaran diyat untuk keluarga.(ca/detiknews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*