ayatollah-mahmoud-al-hassani-al-sarkhiLiputanIslam.com — Di tengah-tengah konflik Irak yang tengah memanas antara pasukan pemerintah dan milisi-milisi pendukung pemerintah melawan kelompok-kelompok militan wahabi pimpinan ISIS, di Karbala terjadi konflik lain yang sangat menarik untuk dicermati.

Konflik bermula, Rabu (2/6), ketika kepala kepolisian Provinsi Karbala yang baru, Brigjen Ghanem al-Ankushi, memerintahkan pembongkaran benteng beton di sekeliling kantor Mahmoud al-Hasani al-Sarkhi dan merampas sejumlah senjata di dalamnya.

Menyaksikan benteng pertahanannya dibongkar, pengikut-pengikut al-Sharki pun memobilisir diri, sementara aparat keamanan memblokade komplek perkantoran Sheikh Sharki di kawasan pemukiman Saif Saad di selatan Karbala.

Tanpa mempedulikan kedatangan pengikut-pengikut al-Sharki, politi meneruskan pekerjaan pembongkaran benteng. Pangikut al-Sharki pun menembak dan 2 petugas keamanan tewas.

Tidak butuh waktu lama, polisi pun melakukan penyerangan ke kompleks al- Sharki, melukai beberapa pengikut sang Sheikh.

Benteng beton yang dibangun Mahmoud al-Hasani al-Sarkhi telah banyak diprotes oleh warga, karena mengganggu akses penduduk untuk pergi ke kawasan lain di dalam kota.

Tembak-menembak pun meluas setelah pengikut al-Sharki berdatangan dari daerah-daerah lain. Demikian juga, aparat keamanan mendatangkan pasukan tambahan dari kota Najaf yang berdekatan.

Aparat keamanan pun menerapkan jam malam dan helikopter-helikopter terbang di atas kawasan pemukiman Saif Saad.

Ada laporan-laporan yang berbeda tentang pengeboman terhadap komplek kantor al-Sharki. Sementara polisi mengumumkan penangkapan sekitar 100 pendukung Sharki di kompleks perkantorannya.

Kabar penyerbuan tersebut memicu ribuan pendukung al-Sharki melakukan berbagai aksi protes di Basra, Naisiriyah dan al-Diwaniyah. Pendukung-pendukung al-Sharki menggelar aksi demonstrasi damai di Nasiriyah. Namun aksi kekerasan pengikut al-Sharki tidak terjadi di Basra, al-Diwaniyah maupun Baghdad.

Menurut pengamat politik Irak, Hisham al-Hashimi, keputusan polisi menyerang kompleks perkantoran al-Sharki , yang kini bersembunyi di tempat rahasia, adalah keputusan yang sembrono.

Dia mengatakan “pasukan keamanan tidak tepat waktu berkonfrontasi dengan al-Sharki, terutama bahwa ia merasa kuat di hadapan kelemahan aparat keamanan terkait perkembangan di provinsi-provinsi utara.”

Dia menambahkan : “al-Sharki perlu membuktikan bahwa ia tidak terkait dengan Partai Baath, ISIS dan Arab Saudi.”

Al-Sharki menentang fatwa Ayatollah Ali al-Sistani, ulama Shiah terbesar di Irak, yang menyerukan warga Irak untuk berjuang bersama pasukan keamanan melawan teroris ISIS.

Al-Sharki tidak banyak memiliki pendukung di Irak. Meski demikian dia memiliki ratusan pengikut di ibukota Baghdad dan kota Nasiriyah dianggap benteng pertahanannya. Ia memiliki tiga pendukungnya yang menjalankan masjid di sana, di mana sekitar 3.000 pendukungnya hidup. Al-Sharki juga mengandalkan dukungan dari provinsi kaya minyak Basra dan memusatkan banyak kegiatan di sana melalui lingkungan kelas pekerja seperti di al-Hayaniyah, al-Jamiat dan Hay al-Hussein.

Al-Sharki mengidentifikasikan dirinya sebagai panduan atau otoritas keagamaan meskipun tak satu pun dari para ulama besar mengakui hal itu. Dia mengeluarkan surat sendiri yang melibatkan pertanyaan yang diajukan kepada para sarjana yang memenuhi syarat untuk memberikan putusan dan jawaban atas pertanyaan hukum agama didasarkan pada doktrin Syiah Jaafari.

Sarkhi telah bergabung dengan Hawza (sekolah tingga agama) di Najaf sesaat sebelum jatuhnya rezim Saddam Hussein dan belajar di tangan Mohammed Sadiq al-Sadr, ayah Muqtada al-Sadr. Tapi Sarkhi menyatakan tidak setuju dengan pandangan dan visi Sadr. Dia mendirikan sebuah gerakan yang ia sebut al-Sarkhia dan mengklaim bahwa ia telah bertemu dengan Imam Mahdi dan menerima instruksi dari Beliau langsung.

Dia menyebut dirinya Mahmoud bin Abdel Rida bin Mohammed al-Hasani al-Sarkhi dan mengidentifikasi dirinya dengan hawza vokal yang didirikan oleh Mohammed Sadiq al-Sadr, bertentangan dengan hawza moderat yang diwakili oleh arus utama agama senior.

Dia telah memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan ulama-ulama Shiah lainnya di provinsi Najaf sejak ia memproklamirkan dirinya sebagai seorang Grand Ayatollah tahun 2003.

Al-Sharki menghilang sebentar pada 2004 ketika pasukan AS mencoba untuk menangkapnya di provinsi Karbala atas tuduhan membunuh sejumlah tentara AS.

Bentrokan terbatas pun kerap terjadi dalam beberapa tahun terakhir antara pasukan keamanan dan pendukung Al-Sharki di sejumlah provinsi selatan karena perbedaan pendapat antara Sarkhi dan pandangan agama ulama lainnya mengenai gerakan yang ia pimpin.

Sejumlah pengikutnya di Baghdad menyerang markas empat koran lokal tahun lalu, menyerang beberapa staf mereka dan menghancurkan peralatan mereka. Tapi pemerintah tidak mampu menangkap salah satu dari mereka.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL