soleimanWashington DC, LiputanIslam.com — Persaingan antara 2 jendral terkenal asal Iran dan AS, Jendral Qassem Soleimani dan Jendral David H. Petraeus, kembali menjadi perhatian.

Seperti dilansir Washington Post, Jumat (20/3), Jendral Petraeus yang kini tengah mengahadapi proses hukum karena tuduhan membocorkan rahasia negara kepada media massa, menanggapi serius kiprah Jendral Soleimani di Irak saat ini, di sela-sela kunjungannya di Irak baru-baru ini.

“Apa yang ingin saya katakan adalah, ia (Jendral Soleimani) adalah orang yang sangat cakap dan individu yang penuh akal, seorang lawan yang sepadan. Ia telah bekerja dengan baik. Namun ini adalah perang yang panjang, dan mari kita lihat nanti bagaimana hasilnya,” kata Petraeus kepada wartawan Washington Post, ketika dimintai komentarnya tentang kiprah Jendral Iran itu di Irak saat ini.

Seperti telah menjadi pemberitaan luas media-media massa barat, Jendral Soleimani, komandan pasukan khusus Iran Quds Force, menjadi sosok yang sangat berperan dalam kampanye pengusiran ISIS di Irak saat ini.

David Petraeus, mantan Panglima Militer AS di Timur Tengah, Afghanistan dan Pakistan, sekaligus mantan Direktur CIA, minggu lalu berada di wilayah Kurdistan Irak untuk bertemu dengan para pemimpin dan akademisi di wilayah otonomi tersebut. Diduga kuat Petraeus memberikan saran dan pendapat tentang penanganan kelompok ISIS dan masa depan kawasan tersebut.

Petraeus yang dikenal sebagai pengikut neo-konservatisme, yang mendukung pendekatpetraeusan agresif terhadap Iran dan sangat pro-Israel itu menuduh bahwa Iran-lah ancaman keamanan sesungguhnya di Irak, dan bukan ISIS.

Ia menuturkan bagaimana pada tahun 2008, tahun dimana kantor kedubes AS di Baghdad diserang oleh kelompok milisi pro-Iran, ia mendapatkan pesan dari Jendral Soleimani melalui sepucuk surat.

“Jendral Petraeus, Anda harus berhati-hati bahwa saya, Qassem Soleimani, mengemban kebijakan Iran atas Irak, Suriah, Lebanon, Gaza, dan Afghanistan,” tutur Petraeus tentang surat tersebut.

Sangat wajar jika Petraeus sangat tidak menyukai Soleimani. Karena Soleimani lah, maka AS harus hengkang dari Irak tanpa hasil, dan kini justru Iran lah yang secara ‘de facto’ lebih berpengaruh di Irak daripada AS.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*