IMG_1649Bible_Society_of_Malaysia0401_600_399_100Jakarta, LiputanIslam.com — The Bible Society of Malaysia (BSM) hengkang dari  Negara Bagian Selangor dan pindah ke Kuala Lumpur. Hal ini karena pemerintah pusat dianggap bisa lebih melindungai kaum minoritas daripada pemerintah lokal Selangor.

Kepindahan BSM ke Ibu Kota adalah buntut disitanya 321 eksemplar Injil berbahasa Melayu dan Dayak Iban pada tanggal 2 Januari 2014. Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) merampas ratusan kitab suci itu dengan dasar hukum buatan tahun 1988 yang melarang penggunaan kata “Allah” oleh orang nonmuslim. Tiga bulan berlalu dan Alkitab tersebut masih ditahan JAIS.

“Hingga kini, pemerintah negara bagian tidak menunjukkan atau mengumumkan inisiatif agar JAIS bertanggung jawab dan menghormati hak minoritas,” kata Lee seperti dilansir The Malay Mail Online, hari Kamis (17/4).

Pada awal April, Menteri Besar Selangor Tan Sri Khalid Ibrahim menyatakan pemerintah negara bagian memutuskan tak ikut campur dalam kontroversi tersebut. Khalid menilai keputusan untuk dengan resmi meminta Jaksa Agung mengembalikan kitab suci yang disita berada di tangan BSM .

Menurut Lee, BSM tak bakal melakukan langkah itu karena dianggap percuma. Seiring dengan kepindahan BSM ke Kuala Lumpur, import Injil melalui pelabuhan Port Klang pun bakal dihentikan. BSM akan mengantar Alkitab langsung ke bagian timur Malaysia, lokasi mayoritas pembaca Injil berada.

Sedangkan umat Nasrani di bagian barat Malaysia mendapatkan kitab sucinya di Negara Bagian Penang, yang tak punya hukum yang mengharamkan kata “Allah” dipakai masyarakat non-muslim.(ca/tempo.co)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL