brownLiputanIslam.com — Seorang pemuda kulit hitam di kota kecil Ferguson, Missouri-AS, yang mabuk mariyuana, melakukan perampokan terhadap sebuah toko pada tanggal 9 Agustus lalu. Penjaga toko yang berbadan kecil tidak sanggup menghentikan aksi tersebut setelah pemuda yang berbadan tinggi besar itu mendorong dan memukulnya.

Kemudian seorang polisi yang curiga dengan tingkah laku pemuda itu bermaksud memeriksanya. Namun pemuda yang otaknya dipengaruhi mariyuana itu melawan. Ia mendorong polisi yang berbadan lebih kecil itu, memukul wajahnya dan berusaha merebut senjatanya. Sesuai instingnya sebagai petugas keamanan, polisi itupun menembak remaja itu hingga tewas.

Beberapa saksi menyebutkan, pemuda yang bernama Michael Brown telah mengangkat tangannya sebelum ditembak. Namun berdasarkan keterangan polisi dan kemudian disetujui dewan juri pengadilan, keterangan para saksi itu tidak sesuai fakta. Maka Pengadilan Ferguson pun pada hari Senin (24/11), membebaskan Darren Wilson, polisi kulit putih yang menembak Brown, dari tuntutan hukum.

Semestinya, sebagai negara demokratis modern pertama di dunia, setelah jatuhnya vonis pengadilan, semua fihak menghormatinya. Dan meski ada pihak-pihak yang menolak keputusan pengadilan, mereka telah mendapatkan ruang dan mekanisme yang cukup untuk menyalurkannya tanpa harus melakukan tindakan-tindakan anarki dan ilegal.

Dengan itu semua, diharapkan negara tetap berjalan dengan baik tanpa aksi-aksi kekerasan dan anarki yang menghancurkan segalanya.

Namun tidak demikian halnya yang terjadi di Ferguson. Aksi-aksi kekerasan justru menyambut keputusan pengadilan tersebut. Tidak hanya di Ferguson, namun juga ke belasan kota besar di AS.  Selain itu tokoh-tokoh kulit hitam pun tampak kurang menunjukkan “kedewasaan”-nya dalam mensikapi vonis itu.

Pendeta kulit hitam terkenal Al Sharpton, misalnya, dengan berapi-api menyatakan menolak keputusan tersebut dan menyatakan akan terus “memburu keadilan” hingga Wilson dihukum. Tidak hanya itu, Jaksa Agung kulit hitam Eric Holder bahkan telah melakukan langkah yang lebih serius. Terlepas dari kasus yang disidangkan di pengadilan Ferguson, Holder memerintahkan penyidikan dugaan pelanggaran hak-hak sipil dan dugaan tindakan rasial serta tindakan kekerasan yang berlebihan.

Tidak lama setelah pembebasan hari Senin (24/11), Holder pun mengatakan: “hukum hak-hak sipil federal melarang keras kasus-kasus seperti ini.”

Ini belum termasuk langkah hukum keluarga Brown sendiri. Pengacara keluarga Brown, Benjamin Crump, mengatakan kepada MSNBC, Senin (24/11), akan melakukan langkah “aksi sipil” untuk menyeret Wilson ke penjara.

“Jika tidak ada lagi langkah hukum yang berhasil, ini adalah langkah yang paling tepat (untuk menghukum Wilson),” kata Crump.

Dan kondisi semakin tidak menguntungkan bagi Wilson setelah hampir semua media massa mapan AS dan dunia terus memojokkannya, membangun opini sebagai pelaku kejahatan sementara Brown justru digambarkan sebagai remaja baik-baik yang tidak bersalah. Bahkan, media seperti BBC mempertanyakan validitas keputusan pengadilan Ferguson, justru karena dewan juri menjadikan faktor “mariyuana” sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan.

“Apakah penyidik terlalu menfokuskan pada marijuana?” Demikian judul editorial BBC News Kamis (27/11), menanggapi kasus Ferguson.

“Sejumlah marijuana yang dikonsumsinya (Brown) bisa menimbulkan tindakan-tindakan abnormal, namun biasanya tidak,”  tulis BBC dengan mengutip keterangan seorang “pakar”.

“99 dari 100 orang yang menggunakan mariyuana, tidak mengubah mereka menjadi orang yang mengajak berkelahi polisi,” tambah BBC.

Sementara itu Wilson sendiri tetap bersikukuh bahwa dirinya telah bertindak benar dengan menembak Brown.

“Saya tahu, saya telah melakukan tugas dengan benar,” katanya dalam wawancara dengan ABC News, Senin (24/11).

Wilson tentu merasa diperlakukan tidak adil jika kemudian langkah-langkah hukum yang dilakukan Jaksa Agung Eric Holder, pendeta Al Sharpton, dan keluarga Brown, yang semuanya adalah orang-orang kulit hitam, menjerumuskannya ke dalam penjara karena membunuh Brown. Ia pun tentu akan merasa telah terjadi tindakan rasis terhadap dirinya yang berkulit putih.

Dan Wilson tidak sendirian, ada hampir 200 juta warga kulit putih di AS yang kini juga mulai merasakan adanya diskriminasi rasial terhadap mereka. Jika sentimen ini tersulut, bisa menimbulkan gejolak yang tidak terbayangkan.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL