rebelMinneapolis, LiputanIslam.com— Kantor berita the Independent asal Inggris menyalahkan pemerintah Assad atas terbunuhnya seorang perenang yang ditembak di Aleppo. Padahal, bukti menyebutkan tembakan tersebut diluncurkan oleh tentara yang disokong oleh Barat.

Dalam berita yang dirilis pada Minggu (2/10/16), jurnalis Katie Forster menyalahkan pemerintah Suriah atas kamatian Mirielle Hindoyan, seorang mahasiswa dan perenang, dan adiknya, Arman. Keduanya meninggal ketika terjadi serangan bertubi-tubi di Aleppo pada Jumat (30/09/16).

Forster melaporkan, tim relawan medis Medecins Sans Frontieres (MSF) melaporkan bahwa lokasi  telah menjadi ‘kolam darah’. “Serangan di kota Aleppo dilakukan oleh tentara pro-Assad yang didukung oleh pesawat-pesawat tempur Rusia,” tulis Foster.

Forster menyatakan bahwa sumbernya adalah situs Armenia yang berbasis di Aleppo dan Fanpage Asosiasi Anak Muda Armenia yang mengkonfirmasi kematian Mirielle Hindoyan. Tetapi analis media dan aktivis perdamaian segera mengabarkan via media sosial mengenai kesalahan informasi tersebut. Sumber awal, yaitu website berita Armenia, Kantsasar, justru melaporkan bahwa serangan terhadap kedua bersaudara itu dilakukan oleh milisi pemberontak.

Ben Norton, penulis rubrik politik Salon.com, adalah satu di antara beberapa jurnalis yang men-tweet kesalahan ini. Demikian bunyi tweet Norton:

@KatieForster cites Aleppo Armenian news Kantsasar & doesn’t mention it blamed attacks on “armed terrorist groups”

Media mainstream berupaya untuk menggambarkan bahwa keseluruhan Aleppo berada di bawah serangan pemerintah Suriah. Fakta sebenarnya, Aleppo terbagi 2 kawasan, timur Aleppo dikuasai oleh gerilyawan asing yang terus-menerus melakukan serangan ke penduduk sipil di barat Aleppo yang berada di bawah kontrol pemerintah Suriah. Sebalikya, tentara Suriah dalam upayanya menaklukkan gerilyawan asing yang didukung AS juga melancarkan serangan ke timur Aleppo.

Vanessa Beeley, seorang jurnalis independen yang meliput ke Aleppo pada bulan Agustus, menulis sebagai berikut:

Kawasan timur dikuasai oleh sejumlah kelompok yang didukung oleh Amerika Serikat, NATO, dan sekutu mereka di Teluk, seperti Arab Saudi, dan Israel. Masyarakat sipil di kawasan yang dikuasai pemerintah, di Barat Aleppo menyebut kelompok-kelompok itu sebagai terroris,’ seringkali tanpa menyebut nama grup secara khusus.”

Menurut Beeley berdasarkan data dari Aleppo Medical Association, ada 200.000 orang tinggal di timur Aleppo yang dikuasai oleh 50.000 gerilyawan asing dan keluarga mereka. Sementara 1,5 juta warga lainnya hidup di barat Aleppo yang berada di bawah kontrol pemerintah Suriah.

Beeley juga menekankan sikap media yang mengabaikan adanya pembagian kota Aleppo ini dan fakta bahwa banyak penduduk di timur Aleppo yang justru melarikan diri ke wilayah barat agar mendapatkan perlindungan dari pemerintah Suriah.(ra/mintpressnews.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL