muktamar-nu-ke-33Jombang, LiputanIslam.com–Mekanisme pemilihan Rais ‘Aam dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang, Jawa Timur masih belum mendapat titik temu. Silang pendapat masih terjadi di internal NU. Sebagian pihak setuju menggunakan metode pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), begitu juga sebaliknya.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud mengatakan, perbedaan pendapat yang terjadi dalam menentukan metode untuk pemilihan Rais ‘Aam merupakan sesuatu yang wajar. Perbedaan pendapat di NU, kata dia, bahkan selalu terjadi di setiap pembahasan apapun di internal ormas Islam terbesar di Indonesia ini.

“Dari jaman dulu juga begitu, di NU (perbedaan pendapat) sudah biasa,” kata Marsudi, seperti dikutip Republika, Jumat (31/7).

Yeni Wahid: NU Tidak Akan Pecah
Sementara itu, putri almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yakni Zannubah Arifah Chofsoh atau Yeni Wahid yakin jika konsep AHWA tidak akan membuat tubuh NU pecah.

“Saya kok yakin NU tidak mudah pecah dengan itu. AHWA mekanismenya mencapai mufakat, memilih pemimpin dengan musyawarah dan tidak ada yang negatif dari Ahwa,” katanya, seperti dikutip Republika (31/7).

Ia mengatakan perbedaan memang bisa saja terjadi dalam muktamar ini, namun ia berharap perbedaan pandangan itu bisa disampaikan dengan cara yang lebih bijak dan tidak perlu ada pertengkaran.

“Kalau ada perbedaan, sampaikan dengan baik, tidak perlu bertengkar. Jika niatnya untuk mat, pasti ada mekanisme lebih baik,” katanya.

Ia juga mengingatkan tantangan NU ke depan akan semakin kompleks, sebab bukan hanya mengurusi masalah internal dalam negeri, tapi juga luar negeri. Saat ini, berbagai masalah terjadi, salah satunya kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Untuk itu, ia berharap NU nantinya juga bisa mengawal peradaban dunia dan bukan hanya masalah internal bangsa. Berbagai macam gagasan dari NU diharapkan menjadi jawaban bagi berbagai macam persolana kekerasan di dunia yang mengatasnamakan agama.

Slamet Effendy: AHWA Bukan Kepentingan Tertentu

Panitia Muktamar NU Slamet Effendi Yusuf menampik sejumlah isu jika konsep AHWA sengaja dibuat untuk menguntungkan sejumlah pihak. Pun, saat pendaftaran baik mereka menyetorkan nama yang diusung menjadi AHWA atau tidak, tetap diterima.

Ia juga mengatakan, konsep AHWA adalah kesepakatan yang sudah lama dibahas sejak Muktamar NU ke-32 di Makassar. Konsep itu juga berdasarkan pengarahan dari almarhum KH Sahal Mahfudz.

“AHWA adalah kesepakatan di NU sejak pleno NU, sejak dari Makassar. Itu juga pengarahan Al-Mukarom KH Sahal Mahfudz,” ujarnya.

AHWA merupakan mekanisme untuk memilih Rais ‘Aam PBNU yang akan diterapkan dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang 1-5 Agustus mendatang. Keputusan itu lahir sebagai produk hasil Munas NU di Jakarta pada 14 Juni lalu. AHWA nantinya akan diisi oleh 9 ulama NU. Mereka yang masuk anggota harus memiliki keriteria beraqidah Ahlussunnah wal Jamaah al Nahdliyah, wara’, zuhud, bersikap adil, berilmu, integritas moral, tawadlu’, berpengaruh, dan mampu memimpin.

Sejumlah nama sudah muncul ke permukaan untuk mencalonkan diri. Beberapa di antaranya KH Hasyim Muzadi untuk posisi Rais ‘Aam, serta KH Said Aqil Siradj, KH Sholahuddin Wahid, H As’ad Said Ali, dan H Muhammad Adnan untuk posisi Ketua Umum Tanfidziyah. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL