Kaci-Hickox_13537Washington DC, LiputanIslam.com — Perawat ebola AS yang melakukan gugatan hukum karena dikarantina paksa sepulang dari Afrika Barat, berhasil memenangkan gugatannya setelah hakim pengadilan AS menyatakan ia tidak boleh dikarantika karena tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.

Sebagaimana dilaporkan BBC News, Hakim Charles LaVerdiere, Jumat (31/10) menyatakan bahwa perawat Kaci Hickox tidak perlu dikarantina atau dibatasi pergerakannya karena tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Keputusan tersebut dikeluarkan setelah Sekjend PBB Ban Ki-moon mengecam diskriminasi terhadap para pekerja kesehatan yang telah memberikan perawatan pasien virus ebola.

Keputusan pengadilan ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah negara bagian Maine yang menerapkan kewajiban karantina paksa selama 21 hari bagi pekerja kesehatan yang kembali ke AS dari negara terjangkit virus ebola.

Menurut hakim Charles, Kaci Hickox harus menjalani pengawasan, namun tidak perlu dipisahkan dari masyarakat.

Menanggapi keputusan itu, Gubernur Paul LePage mengatakan tidak setuju namun akan tetap patuh.

“Sebagai gubernur saya telah melakukan apapun untuk melindungi kesehatan dan keamanan warga Maine,” katanya.

“Saya percaya ini tidak menguntungkan. Namun negara bagian ini akan patuh pada hukum.”

Menanggapi keputusan itu, Hickox mengatakan hal itu sebagai “hari yang baik” seraya menyebutkan perhatian dan doa selalu diberikan kepada rekan-rekan pekerja kesehatan yang tengah berjuang melawan ebola di Afrika Barat.

WHO menyebutkan saat ini lebih dari 13.700 orang telah terinveksi virus ebola dan hampir 5.000 di antaranya tewas karenanya. Di AS sendiri jumlah pasien ebola yang pernah dirawat adalah 9 orang.

Para pejabat dan publik AS kini terbelah tentang perlakuan yang harus diberikan kepada para pekerja kesehatan yang telah terekspos oleh virus ebola, terutama mereka yang baru kembali ke AS setelah bertugas di Afrika Barat.

Selain Kaci, pekerja kesehatan lainnya, Dr Craig Spencer, diketahui telah berkeliling kota New York City sebelum jatuh sakit. Ia kini tinggal dalam ruang isolasi. Setelah kasus ini diumumkan, beberapa negara bagian seperti New York, New Jersey dan beberapa negara bagian lain menerapkan kebijakan karantina paksa kepada mereka yang diketahui telah terekspos dengan virus ebola.

Namun Presiden Barack Obama mengecam langkah tersebut dan disebutnya telah membuat ketakutan para pekerja kesehatan yang akan pergi ke Afrika Barat untuk memerangi ebola.

Hari Kamis (30/10) kelompok Doctors Without Borders mengingatkan bahwa kebijakan karantina paksa memberikan dampak buruk bagi para pekerja kesehatan dan berfikir untuk mengurangi tenaga medis yang dikirimnya ke Afrika Barat.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL