aktifis hongkongHongkong, LiputanIslam.com — Seperti sudah diperkirakan, hari Minggu (31/8), para legislator Cina akhirnya menetapkan badan pemilihan kandidat kepala eksekutif (gubernur) sebagai lembaga yang berhak menetapkan para calon kepala eksekutif yang berhak mengikuti pemilihan.

Keputusan ini pun mengundang kemarahan para aktifis dan mengancam akan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran. Demikian laporan BBC News.

Pemilihan kepala eksekutif HOngkong mendatang akan digelar tahun 2017 dan menjadi pemilihan pertama dimana masyarakat berkesempatan menentukan pilihannya langsung. Namun legislatif Cina menetapkan bahwa para kandidat harus mendapat persetujuan dari lembaga pemilihan kandidat, yang dianggap menjadi alat kepentingan pemerintah pusat.

Aktifis gerakan “Occupy Central”, Benny Tai Yiu-ting, mengatakan: “Ini adalah akhir dari semua dialog. Dalam beberapa minggu ke depan, Occupy Central akan memulai aksi demi aksi. Kami akan mengorganisir aksi skala penuh menduduki Central (kawasan pusat bisnis Hongkong)!”

Tidak lama setelah pengumuman legislatif Cina, sekelompok aktifis menggelar demonstrasi di depan gedung pemerintahan Hongkong.

Seorang demonstran Henry Chung, mengatakan kepada AFP: “Saya sangat sedih. Kami telah menunggu bertahun-tahun, namun kini kami tidak mendapatkan apapun.”

Legislator Partai Buruh Hongkong, Lee Cheuk-yan, mengatakan kepada South China Morning Post bahwa akan ada “pertempuran penuh” terhadap pemerintahan Beijing.

Sedangkan pimpinan Partai Demokrasi Emily Lau Wai-hing mengatakan kepada media yang sama: “Ini adalah tentang satu orang satu suara, namun tidak ada pilihan. Mereka melakukannya di Korea Utara, namun kita tidak bisa menyebutnya sebagai demokrasi.”

Bagi para aktifis, keputusan legislator Cina ini menjadi skenario terburuk. Bahkan dibanding pemilihan sebelumnya, persyaratan kandidat dalam pemilihan mendatang lebih berat kareha harus mendapatkan persetujuan dari 51% dari 1.200 anggota lembaga pemilihan kandidat, padahal dalam pemilihan tahun 2012, yang dibutuhkan hanya 12,5%.

Namun pimpinan eksekutif Hongkong Leung Chun-ying menyambut gembira keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai “langkah besar pembangunan masyarakat Hong Kong”.

Li Fei, pejabat legislatif Cina mengatakan bahwa pemilihan calon secara terbuka hanya menimbulkan “masyarakat yang kacau balau”.

“Banyak rakyat Hong Kong yang menghabiskan waktu untuk sesuatu hal yang tidak berguna,” katanya.

“Jika kepala eksekutif tidak mencintai Cina dan melawannya, sistem “satu negara 2 sistem” akan mengalami kegagalan,” tambahnya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL