kassab warLiputanIslam.com — Dengan gagalnya rencana offensif di front Selatan Suriah setelah militer Suriah berhasil melakukan offensif pendahuluan, kekalahan di front tengah dengan terusirnya para pemberontak dari Yabroud dan pegunungan Qalamoun, kekuatan-kekuatan anti Suriah kini menambatkan harapannya pada pertempuran di front utara di Provinsi Latakia.

Pertempuran di front ini terpusat pada kota kecil Kassab, yang terletak di dekat perbatasan Suriah dengan Turki.

Pertempuran sengit dimulai tgl 21 Maret lalu ketika ribuan pemberontak dari kelompok Al Nusra yang berafiliasi dengan Al Qaida, menyusup dari perbatasan Turki dan merebut kota tersebut setelah melalui pertempuran sengit dengan pasukan Suriah dan milisi lokal. Pertempuran kemudian berkembang lebih luas dengan melibatkan angkatan udara Turki yang berusaha melindungi para pemberontak dari serangan pesawat-pesawat tempur Suriah.

Pada tanggal 23 Maret, pesawat-pesawat tempur Turki menembak jatuh pesawat tempur Suriah yang tengah memburu para pemberontak di dekat perbatasan. Tidak hanya itu, sebuah rekaman pembicaraan antara pejabat-pejabat penting Turki yang bocor ke media sosial YouTube, menunjukkan betapa seriusnya kondisi di perbatasan Suriah dan Turki. Dalam rekaman tersebut diketahui beberapa pejabat tinggi Turki, dengan restu perdana menteri Tayyep Erdogan, berencana melakukan operasi false flag berupa serangan roket dari wilayah Suriah terhadap Turki, yang akan direspon Turki dengan melancarkan invasi terhadap Suriah.

Terima kasih kepada YouTube yang telah mengunggah rekaman konspirasi jahat tersebut, meski untuk itu media populer itu harus diblokir rezim Erdogan, sementara media-media barat hanya memperhatian masalah pemblokiran tanpa menyinggung rencana jahat yang bisa dikategorikan sebagai tindakan “pengkhianatan” terhadap rakyat dan negara Turki oleh para pemimpinnya sendiri. Tanpa hal itu, mungkin saat ini pasukan Turki sedang menyerbu Suriah dan semakin menambah parah kerusakan yang telah terjadi di negeri itu.

Keterlibatan Turki dalam pertempuran di Kassab mengundang kenangan pahit bagi orang-orang Armenia yang banyak tinggal di kota itu. Sebagaimana diketahui, ketika masih dipimpin oleh Kemal Attaturk, Turki telah melakukan pembantaian massal terhadap warga Armenia. Tidaklah berlebihan kalau media Amerika The Wall Street Journal menulis laporan berjudul “Latakia Offensive Stirs Dark Memories for Armenian-Syrians”.

Keterlibatan Turki juga menunjukkan bahwa plot internasional anti-Suriah, terutama NATO dimana Turki adalah salah satu negara anggotanya, tengah melancarkan upaya menyeret NATO ke dalam konflik Suriah, yang telah lama diusahakan mereka sejak awal konflik terjadi tahun 2011. Keterlibatan NATO, meski terbatas, sudah cukup untuk membentuk kawasan penyangga di perbatasan Suriah-Turki yang secara de-facto merupakan bentuk kemenangan kekuatan anti-Suriah. Karena melalui kawasan penyangga yang dijaga NATO itulah, para pemberontak akan dengan leluasa memperkuat diri dan melancarkan serangannya ke jantung kekuatan Suriah.

Hal ini sebenarnya telah menjadi wacana lama sejak konflik Suriah bergulir. Berbagai alasan pun dicari, termasuk mengorbankan seorang pilot Turki dan pesawatnya, yang ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Suriah karena melanggar wilayah udara Suriah. Turki pun bereaksi keras dengan menggelar kekuatan militernya di perbatasan dan mengancam akan menyerang Suriah.

Hanya karena bukti-bukti menunjukkan pesawat tempur Turki telah melanggar wilayah Suriah, serta ancama Iran yang akan menyerang pasukan asing yang memasuki wilayah Suriah, Turki membatalkan niatnya.

Niat barat untuk membentuk kawasan penyangga di perbatasan Turki-Suriah sebagai basis pemberontakan Suriah, telah diwujudkan dalam bentuk wacana yang dikemukakan oleh Brookings Institute, lembaga kajian dimana sebagian besar kebijakan luar negari Amerika berasal, tahun 2012, yang berbunyi:

“Alternatifnya adalah upaya-upaya diplomatik untuk menfokuskan pada, pertama, bagaimana mengakhiri kekerasan dan mendapatkan akses bagi bantuan kemanusiaan sebagaimaan saat ini tengah dijalankan oleh Annan (utusan khusus PBB untuk masalah Suriah kala itu). Ini memungkinkan bagi terbentuknya koridor-koridor bagi bantuan kemanusiaan yang dilindungi oleh kekuatan militer. Ini tentu saja akan menghambat upaya menjatuhkan Assad. Namun, dari titik inilah, sebuah koalisi luas dengan mandat internasional akan bisa memberikan tekanan lebih kuat untuk mewujudkan upaya-upaya itu (menjatuhkan Assad).”

“Membantu dan bersekongkol dengan Al Qaeda, memberikan dukungan udara bagi teroris bersenjata, dan berencana untuk sengaja memprovokasi perang dengan Suriah melalui tindakan melukai diri sendiri, dan sekarang sepenuhnya terungkap sebagai upaya untuk membingkai Damaskus. Semua dilakukan dengan jelas sebagaimana dunia melihat keputus-asaan yang berbahaya dari barat untuk meraih hegemoni globalnya,” tulis pengamat politik internasional Tony Cartalucci dalam artikelnya di media Iran Press TV, baru-baru ini.

Tindakan provokatif Turki, serta sikap NATO yang diam membisu atasnya, menunjukkan bahwa aliansi militer itu serta seluruh anggotanya, turut terlibat dalam peperangan yang tengah berlangsung di Latakia.

Ironis adalah kenyataan bahwa sementara NATO memberikan perlindungan udara bagi Al Qaeda di sepanjang perbatasan Suriah – Turki, mereka menyalahkan Al Qaeda di Afghanistan untuk membenarkan pendudukan lebih lanjut di sana serta serangan lintas perbatasan ilegalnya ke Pakistan.

“Pada setiap titik penting selama konflik Suriah yang sedang berlangsung, Barat telah meningkatkan pertaruhan kredibilitasnya dengan norma-norma internasional yang telah dibangunnya selama berpuluh tahun. Dan saat mereka gagal dalam setiap kesempatan yang dilakukannya, momentum yang telah mereka cari sejak awal konflik tahun 2011, telah hilang,” tambah Cartalucci.

Pertempuran di Kassab tampaknya menjadi pertempuran terakhir oleh NATO dan kaki tangannya di Suriah.

Militer Suriah sepenuhnya mampu menghentikan arus militan yang mengalir melalui perbatasannya dan telah menunjukkan kesabaran tak terbatas terhadap provokasi NATO. Dengan Turki yang terungkap telah berencana memancing perang dengan Suriah, setiap upaya untuk benar-benar melakukan serangan hanya akan lebih melemahkan Turki dan NATO. Bahkan jika mereka mampu membangun “zona penyangga” di Suriah utara, harga yang mereka bayar berupa kredibilitas, reputasi, dan legitimasi yang hancur, akan membuat hal itu tidak berarti.

“Seperti dengan semua kemaharajaan di sepanjang sejarah manusia, ada saat yang menentukan ketika kekalahan menjadi tidak bisa ditahan dan kehancuran tidak bisa dihindari. Bagi “Pax Americana” dan para elit yang duduk di Wall Street dan di London, saat yang menentukan itu mungkin adalah Pertempuran Kassab,” tulis Cartalucci pada akhirnya.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*