right sectorKiev, LiputanIslam.com — Ukraina kembali berada dalam kondisi kritis setelah aksi-aksi kerusuhan yang menjungkalkan presiden terpilih Victor Yanukovych bulan Fabruari lalu. Kelompok militan neo-nazi Right Sector yang berjasa dalam penggulingan Yanukovych kini terlibat “peperangan sengit” dengan rezim baru Ukraina setelah tewasnya salah satu pemimpin mereka, Aleksandr Muzychko, oleh aparat keamanan hari Selasa (25/3).

Jumat malam (28/3) hingga saat ini dikabarkan ribuan anggota kelompok ini telah menguasai gedung parlemen dan menuntut beberapa pejabat tinggi pemerintah untuk ditangkap dan diadili atas pembunuhan Muzychko.

Mereka menuntut Mendagri Arsen Avakov untuk diadili atas apa yang mereka sebut sebagai “pembunuhan politik” atas Aleksandr Muzychko, tokoh militan yang terkenal dengan aksi-aksi kekerasan yang dilakukannya terhadap pejabat-pejabat yang dianggap anti-revolusi. Ia juga pernah mengeluarkan ancaman secara terbuka untuk membunuh Avakov.

Para anggota Right Sector semakin marah setelah beredar rekaman pembicaraan antara seorang pejabat detasemen polisi khusus Sokol dengan pejabat keamanan Valentin Nalivaychenko, yang membahas rencana pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Right Sector Dimitri Yarosh.

Para anggota parlemen dan pejabat Ukraina tentu saja merasa terancam dengan aksi pendudukan gedung parlemen tersebut. Presiden sementara sekaligus ketua parlemen Ukraina, Aleksandr Turchinov, menuduh aksi tersebut sebagai “provokasi”.

“Parlemen adalah dasar dari kekuasaan syah Ukraina. Tanpanya tidak akan ada kekuasaan sama sekali,” kata Turchinov dalam pernyataannya hari Jumat (28/3).

“Ada upaya untuk menghancurkan stabilitas Ukraina, di pusatnya, di jantungnya, yaitu Kiev,” tambah Turchinov. Ia bahkan menuduh Right Sector sebagai agen provokator yang dibayar Rusia, padahal Rusia-lah negara yang paling menginginkan “kepala” para pemimpin kelompok ini karena keterlibatan mereka dalam aksi terorisme mereka terhadap Rusia selama perang di Chenchnya tahun 1994 dan 1998.

Sementara itu sumber-sumber menyebutkan terjadinya perbedaan pendapat antara pejabat dan politisi Ukraina tentang sikap yang harus diambil terhadap kelompok Right Sector. Beberapa pejabat, termasuk Avakov, menginginkan pembubaran kelompok ini, karena dengan demikian akan membersihkan cap negatif yang melekat pada rezim Ukraina yang didominasi oleh kelompok-kelompok radikal. Namun beberapa pejabat lain justru menginginkan abolishi terhadadap kelompok ini dan mengakomodir personil mereka sebagai bagian dari aparat keamanan negara.

Uni Eropa dan Amerika Mengecam
Aksi yang dilakukan kelompok Right Sector tentu saja mengundang perhatian Uni Eropa, pihak yang menjadi pendukung utama gerakan penggulingan Victor Yanukovich. Kepala Kebijakan Luar Negeri kelompok ini, Catherine Ashton, mengecam tindakan Right Sector dengan menyebut tindakan mereka sebagai “tidak demokratis”. Meski atas aksi penggulingan Yanukovych, yang jelas-jelas tidak demokratis, Ashton tidak melakukan kecaman serupa.

Aston juga menyebut tindakan mereka sebagai tindakan “intimidasi yang bertentangan dengan semua prinsip demokrasi dan hukum”. Tidak hanya itu, Ashton juga menyerukan pelucutan dengan segera semua senjata ilegal kepada pemerintah, merujuk pada kepemilikan senjata oleh Right Sector dan kelompok-kelompok radikal lainnya di Ukraina. Sebagian besar senjata tersebut berasal dari gudang-gudang senjata militer yang direbut selama terjadinya aksi kerusuhan antara bulan November 2013 hingga Februari 2014 lalu.

Kecaman serupa juga dikeluarkan oleh kedubes Amerika dan negara-negara Uni Eropa di Kiev.

“Kami mengecam taktik-taktik yang digunakan Right Sector terhadap parlemen Ukraina (Verkhovna Rada). Kami mendesak semua kekuatan politik untuk menjauhkan diri dari para ekstremis yang telah mengacaukan upaya stabilisasi Ukraina dan perlindungan kedaulatannya,” demikian pernyataan bersama kedubes Amerika dan negara-negara Uni Eropa di Kiev.

Sementara itu Mendagri Avakov menyatakan tekadnya untuk tetap mengemban tugasnya di tengah tuntutan kelompok radikal terhadapnya untuk mengundurkan diri.

“Mengundurkan diri bukan masalah bagi saya. Tidak masalah 3 hari lalu (hari pembunuhan Muzychko), tidak masalah juga hari ini. Masalahnya adalah, ke arah mana negeri ini akan berjalan setelahnya. Kita akan bergerak ke arah seperti Somalia dimana gerombolan-gerombolan bersenjata menjadi pemenang, atau kita akan mengarah ke tata-tertib? Saya memilih yang kedua,” katanya kepada kantor berita Inter-fax, Jumat (28/3).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*