vladivostok carrierParis, LiputanIslam.com — Perancis memutuskan untuk menunda pengiriman kapal pengangkut helikopter pesanan Rusia, Vladivostok, terkait dengan konflik yang tengah berlangsung di Ukraina yang melibatkan Rusia.

Dalam pernyataannya hari Rabu (3/9), Presiden Perancis Francois Hollande menyebut “kondisinya tidak tepat” untuk mengirimkan satu dari 2 kapal perang sejenis yang dipesan Rusia. Hollande menyalahkan Rusia atas tindakan-tindakan terbaru di Ukraina, merujuk pada kehadiran pasukan Rusia di Ukraina.

“Presiden Republik Perancis telah menyimpulkan bahwa, meski terdapat prospek gencatan senjata yang telah dikonfirmasi dan telah dimulai, kondisi-kondisi dimana Perancis dapat memutuskan untuk mengirimkan kapal pengangkut helikopter ini, tidak terjadi,” demikian pernyataan Hollande sebagaimana dilaporkan BBC News.

Padahal selama ini Perancis selalu menolak desakan sekutu-sekutunya untuk membatalkan pengiriman kapal itu, menyebut bahwa Perancis harus menghormati kontrak perjanjian dengan Rusia.

Menanggapi pernyataan itu, Deputi Menhan Rusia, Yury Borisov mengatakan bahwa langkah Perancis tersebut tidak akan mempengaruhi progam reformasi angkatan bersenjata Rusia.

“Meski tentu saja hal ini tidak menyenangkan dan menambah ketidaknyamanan hubungan dengan mitra Perancis, pembatalan kontrak ini tidak akan menjadi tragedi bagi program moderniasai kamai,” kata Borisov kepada Itar-Tass, Rabu (3/9).

Sementara itu Menlu Ukraina Pavlo Klimkin melalui kicauananya di Twitter menyatakan terima kasih kepada pemimpin Perancis atas apa yang disebutnya sebagai “keputusan yang bertanggungjawab yang penting untuk mewujudkan perdamaian di Eropa”.

Vladivostok, kapal pengangkut helikopter moderan, menurut kontrak harus sudah dikirimkan ke Rusia pada akhir Oktober mendatang. Sedangkan kapal kedua, Sevastopol, tahun depan.

Sejak beberapa waktu lalu AS dan negara-negara NATO menyatakan keberatannya dengan keputusan Perancis untuk tetap mengirimkan kapal-kapal Rusia itu sesuai kontrak. Dan seiring dengan “campur tangan” Rusia yang semakin nyata dalam konflik Rusia, tekanan kepada Perancis oleh sekutu-sekutunya untuk menunda pengiriman Vladivostok, semakin kuat.

Kontrak pembuatan 2 kapal pengangkut helikopter ini merupakan kontrak penjualan senjata terbesar barat kepada Rusia. Dan penundaannya menjadi tanda yang sangat nyata atas sikap NATO terhadap Rusia, khususnya menjelang dilangsungkannya KTT NATO di Wales.

Kapal angkut helikopter kelas “Mistral” ini mampu membawa 16 helikopter berat, sejumlah besar pasukan dan kendaraan lapis baja. Kehadirannya meningkatkan secara signifikan kemampuan pendaratan pasukan militer Rusia.

Kontrak pengiriman kedua kapal itu bernilai 1,2 miliar euro atau senilai lebih dari Rp 16 triliun.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL