Paris, LiputanIslam.com — Perancis mengecam langkah AS yang membatasi kunjungan ke Iran melalui pembatasan pemberian visa. Hal itu disebut sebagai ‘tidak bisa diterima’ dan ‘melanggar kesepakatan program nuklir Iran’.

Ketua Senat Perancis Gerard Larcher mengatakan hal itu seperti dilaporkan Press TV, hari ini (22/12).

Berbicara di depan wartawan di Teheran, Senin (21/12) di hari terakhir kunjungannya ke Iran, Larcher mengatakan bahwa negara-negara Eropa, khususnya Perancis, menganggap langkah AS itu ‘tidak tepat’ dan memberikan ‘isyarat buruk’ bagi Iran.

Lebih jauh ia mengatakan bahwa ia akan membicarakan masalah ini dengan Presiden Francois Hollande, dan Perancis harus berbicara tegas menolak langkah AS itu.

Selama lebih dari 25 tahun, program ‘Visa Waiver’ (VWP) mengijinkan warga negara dari 38 negara untuk datang ke AS tanpa menggunakan visa. Namun sejak hari Sabtu (19/12) Presiden Barack Obama menandatangani undang-undang yang mengeluarkan Iran, Iraq, Suriah dan Sudan, dari daftar tersebut. Tidak hanya itu, siapapun yang telah datang ke negara-negara itu dalam lima tahun terakhir, akan dikeluarkan dari keistimewaan itu dan harus mengikuti birokrasi standar, termasuk harus mengikuti wawancara tatap muka di konsulat AS.

Pada hari Senin Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menyebut langkah tersebut telah melanggar kedaulatan Eropa karena banyaknya pejabat dan pengusaha Eropa yang telah datang ke Iran akhir-akhir ini menyusul keberhasilan perundingan program nuklir Iran bulan Juli lalu.

“Legislasi itu melanggar kemerdekaan Eropa dan semangat dari undang-undang itu mencerminkan siapapun yang berpihak pada teroris adalah kebal hukum,” kata Zarif dalam pertemuan dengan Larcher di Tehran.

Perancis-Rusia Setuju Tingkatkan Kerjasama anti-ISIS

Sementara itu Perancis dan Rusia sepakat untuk meningkatkan kerjasama untuk melawan kelompok teroris ISIS di Suriah. Hal itu setelah berlangsung pertemuan antara Menhan Perancis Jean-Yves Le Drian dan Menhan Rusia Sergei Shoigu di Moscow, Senin.

“Kami sepakat untuk meningkatkan pertukaran informasi militer, baik bagi dalam serangan-serangan maupun penentuan lokasi-lokasi kelompok-kelompok yang berbeda di Suriah,” kata Le Drian, seraya menambahkan bahwa kedua negara sepakat untuk menggelar pertemuan rutin terkait masalah tersebut.

Menhan Perancis mengatakan bahwa tidak ada konflik antara Rusia dengan negaranya seraya menyebutkan bahwa kedua negara telah bekerjasama dengan baik dalam memerangi ISIS, dan kerjasama itu perlu untuk ditingkatkan.

Perancis menggelar serangan udara ke Suriah untuk pertama kalinya pada 15 November lalu dengan sasaran ibukota ISIS di kota Raqqah.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL