The French helicopter transport ship MisMoskow, LiputanIslam.com — Perancis mensyaratkan gencatan senjata dan penyelesaian politik di Ukraina sebagai syarat dikirimnya kapal perang pesanan Rusia yang ditunda pengirimannya karena perkembangan konflik Ukraina yang memburuk.

Hal itu disampaikan Presiden Perancis Francois Hollande kepada kantor berita Reuters, Kamis petang (4/9).

“Apa syarat-syaratnya? Gencatan senjata dan penyelesaian politik. Saat ini syarat itu belum terpenuhi,” kata Hollande kepada Reuters sebagaimana dikutip RIA Novosti, hari ini (5/9).

Di sela-sela pertemuan para pemimpin NATO yang tengah digelar di Wales, Inggris, Hollande mengatakan kepada para wartawan bahwa kontrak pembuatan kapal perang modern kelas Mistral untuk Rusia dalam status status quo, tidak dibatalkan atau ditunda. Namun Perancis menambahkan syarat-syarat tersebut di atas agar kapal-kapal tersebut bisa dikirimkan ke Rusia.

Perancis mendapatkan tekanan keras dari sekutu-sekutu NATO nya untuk membatalkan kontrak pembuatan kapal perang Rusia tersebut setelah Rusia dituduh terlibat dalam konflik di Ukraina.

Rusia dan Perancis menandatangani kontrak pembuatan 2 kapal pengangkut helikopter modern senilai $1.6 miliar pada bulan Juni 2011. Kapal pertama Vladivostok, menurut rencana harus dikirimkan akhir Oktober mendatang. Kapal kedua Sevastopol, akan dikirimkan tahun depan.

Sebagaimana diberitakan LI kemarin (4/9), dalam pernyataannya yang disampaikan kepada sebuah media AS, Rabu (3/9), Francois Hollande menyebut tentang “kondisi yang tidak tepat untuk mengirimkan kapal perang yang dipesan Rusia”. Hollande menyalahkan Rusia atas tindakan-tindakan terbaru di Ukraina, merujuk pada kehadiran pasukan Rusia di Ukraina.

Moskow berulangkali membantah keterlibatannya dalam konflik di Ukraina, menyebut warga Rusia yang terlibat dalam perang di Ukraina adalah sukarelawan sipil yang tidak terikat dengan kebijakan pemerintah Rusia. Rusia juga menyebut berbagai sanksi yang diberikan barat kepada Rusia sebagai tindakan “tidak produktif” dan mengancam keamanan dan stabilitas internasional.

Penghargaan kepada wartawan korban perang

Sementara itu Presiden Rusia Vladimir Putin, hari ini (5/9) menganugerahkan bintang penghargaan Order of Bravery kepada wartawan fotografi Rossiya Segodnya, Andrei Stenin, demikian laporan RIA Novosti.

Andrei adalah wartawan Rusia yang meninggal saat menunaikan tugasnya di wilayah Ukraina, bulan lalu.

“Presiden Vladimir Putin telah menandatangani dekrit untuk memberikan bintang penghargaan keberanian dan kepahlawanan yang ditunjukkan dalam komitmen-komitmen profesional kepada Andrei (Stenin), seorang koresponden foto khusus dari kantor berita Rossiya Segodnya,” demikian pernyataan kantor kepresidenan di Kremlin, Moskow, Jumat (5/9).

Sebuah upacara duka digelar di kantor pusat Rossiya Segodnya, Jumat siang. Selanjutnya ia dibawa ke pemakaman Troyekurovskoye di Moscow, untuk dikuburkan tidak jauh dari pemakaman wartawan Igor Kornelyuk, Anton Voloshin dan Anatoly Klyan, yang juga tewas di Ukraina.

Pada hari Rabu (3/9), Direktur Jendral Rossiya Segodnya Dmitry Kiselev mengumumkan bahwa berdasar penyelidikan, Stenin, yang hilang di Ukraina pada awal Agustus lalu, tewas di dekat kota Donetsk, sebulan lalu, ketika mobil yang membawanya ditembaki dan kemudian dibakar di jalan raya di luar kota Donetsk.

Menurut Komite Penyidik Rusia, serangan itu dilakukan oleh pasukan Ukraina terhadap konvoi pengungsi yang dikawal oleh kelompok separatis. Namun pemerintah Ukraina membantah pernyataan itu.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL