Petro-Poroshenko_2866795bKiev, LiputanIslam.com — Penunjukan 3 warga asing sebagai menteri dalam pemerintahan Ukraina mengundang kecaman dari berbagai pihak  Demikian RIA Novosti melaporkan, Rabu (3/12).

Daniel McAdams, Direktur Eksekutif Ron Paul Institute for Peace and Prosperity, sebuah lembaga kajian AS menyebutkan penunjukan itu sebagai “penghinaan bagi rakyat Ukraina”.

Sebelumnya pada hari Selasa (2/12) parlemen Ukraina menyetujui penunjukan 3 warga asing dalam susunan kabinet pemerintahan Ukraina, masing-masing Natalie Jaresko dari AS sebagai Menteri Keuangan,
Aleksandr Kvitashvili dari Georgia sebagai Menteri Kesehatan, dan Aivaras Abromavicius dari Lithuania sebagai Menteri Ekonomi.

Hanya beberapa jam sebelum persetujuan itu Presiden Petro Poroshenko memberikan naturalisasi (pewarganegaraan) kepada ketiganya.

“Ukraina adalah negara berpenduduk lebih dari 40 juta jiwa, namun pemerintahan dukungan AS itu masih membutuhkan untuk mengangkat warga asing untuk menduduki beberapa jabatan kunci,” kata McAdams kepada RIA.

“Langkah itu harus dilihat sebagai seluruh rakyat Ukrainians sebagai penghinaan: tidak ada warga asli Ukraina yang cukup berkualitas untuk menduduki jabatan strategis,” tambahnya.

McAdams mencatat bahwa Yaresko sebelumnya adalah Direktur Horizon Capital Investment, perusahaan investasi AS, yang memiliki kaitan dengan pengusaha oligarkh Viktor Pinchuk. Selain itu Yaresko juga bekerja untuk Kemenlu AS.

“Departemen Luar Negeri AS lah yang telah mendorong kudeta terhadap pemerintahan terpilih Ukraina, dan kini mereka memiliki salah satu orangnya di pemerintahan Ukraina,” tambahnya lagi.

Sementara tentang Abromavicius, Adams mengingatkan bahwa program utamanya adalah “penghematan”, berdasar pernyataannya bahwa sebagai negara yang miskin dan korup Ukraina memerlukan program yang radikal.

“Dengan pejabat seperti Abromavicius, bisa dimengerti mengapa warga negara Lithuania keluar dari negaranya secepat mungkin.”

McAdams memperkirakan kondisi ekonomi Ukraina justru akan semakin memburuk, dan pada akhirnya semua orang tidak lagi memikirkannya.

“Ukraine tengah berkembang dari tragedi menjadi sebuah lelucon. Kehidupan bagi kebanyakan warga Ukraina akan menjadi semakin memburuk.”

“Pemerintah AS akan berusaha meyakinkan mereka bahwa ini semua demi reformasi dan mereka tidak boleh mengeluh. Pada akhirnya penderitaan mereka tidak akan terhitung,” kata McAdams.

Menyusul pembentukan kabinet Ukraina itu, Wapres AS Joe Biden menyambutnya dengan gembira. AS, katanya, akan mendukung Ukraina untuk menstabilkan ekonomi, memperkuat demokrasi dan memerangi korupsi.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL