penumpang gelap masKuala Lumpur, LiputanIslam.com — Satu dari dua orang yang menggunakan paspor curian dalam penerbangan MH370 dari Kuala Lumpur tujuan Beijing tidak terkait dengan kegiatan terorisme. Kedua orang itu diyakini berniat bermigrasi ke Jerman untuk mencari suaka. Demikian pernyataan yang dikeluarkan kepolisian Malaysia, Selasa (11/3).

Pesawat Malaysia Airlines hilang dari pantauan radar pada Sabtu dini hari, sekitar dua jam setelah bertolak dari Kuala Lumpur menuju Beijing dengan membawa 227 penumpang dan 12 kru. Tidak adanya tanda-tanda mengenai penyebab hilangnya pesawat menimbulkan banyak spekulasi, mulai dari kesalahan pilot, kerusakan pada pesawat, pembajakan, hingga terorisme.

Spekulasi terorisme muncul karena adanya dua penumpang yang ikut dalam penerbangan menggunakan paspor curian Namun, isu terorisme melemah setelah pemerintah Malaysia menetapkan bahwa satu orang dari pengguna paspor curian itu hanyalah pencari suaka dari Iran.

Kepala kepolisian Malaysia, Khalid Abu Bakar mengatakan kepada wartawan, pemuda Iran berusia 19 tahun yang pergi menggunakan paspor curian itu berencana memasuki Jerman untuk mencari suaka. “Kami percaya dia tidak mungkin menjadi anggota kelompok teroris manapun,” kata Khalid seperti dilansir “Associated Press”, hari Selasa.

Dia menambahkan, ibu pemuda tersebut sudah menunggunya di Frankurt dan telah mengontak pihak kepolisian. Sang ibu menghubungi pihak berwenang Malaysia untuk memberitahu keprihatinanya karena anaknya tidak bisa dikontak.

Sementara, lanjutnya, pria lain yang ikut bepergian dengan pemuda Iran tersebut telah tiba di Malaysia pada hari yang sama, dan belum bisa diidentifikasi.

Khalid mengatakan, penyelidik tetap tidak mengenyampingkan kemungkinan apapun, termasuk adanya pembajakan, sabotase, atau motif pribadi dari awak atau penumpang. “Polisi tidak memiliki informasi tentang keterlibatan teroris,” katanya.

Pesawat Boeing 777-200ER milik Malaysia Airlines lepas landas dari Kuala Lumpur melintasi pantai timur ke Teluk Thailand pada ketinggian 35 ribu kaki. Saat hilang, pilot tidak mengirimkan sinyal bahaya apapun.

Dalam sebuah pernyataan, Malaysia Airlines menyatakan, tim pencarian dan penyelamatan telah memperluas ruang lingkup di luar jalur penerbangan ke Semenanjung Malaysia sebelah barat di Selat Malaka. Sebelumnya, tim melakukan pencarian di pantai barat Malaysia. “Pencarian di kedua sisi,” kata Kepala Penerbangan Sipil, Azharuddin Abdul Rahman.

Selama tiga hari terakhir misi pencarian, setidaknya ada 10 negara yang turut mencari pesawat tersebut. Mereka mengerahkan sembilan pesawat dan 24 kapal untuk menjelajahi Teluk Thailand di sisi timur Malaysia. Selain melakukan pencarian di laut, mereka juga menelusuri pencarian di darat.(ca/tempo.co)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*