perdagangan anak cinaBeijing, LiputanIslam.com — Bisnis ilegal penjualan anak di Cina telah sampai pada taraf mengkhawatirkan dengan para pelakunya melakukan penjualan secara online. Polisi memperkirakan sekitar 20 ribu anak-anak telah diculik setiap tahun untuk diperdagangkan di Cina.

Seperti dilaporkan BBC News, Rabu petang (11/3), Kemenlu AS memperkirakan angka penculikan anak di Cina mencapai 20 ribu anak per-tahun, atau 400 anak per-minggu. Sementara media massa Cina memperkirakan angkanya jauh lebih besar, mencapai 200.000 per-tahun, meski polisi menolak angka sebesar itu.

Menurut laporan tersebut seorang anak laki-laki bisa dijual dengan harga sekitar 100.000 rmb atau lebih dari Rp200 juta, sedangkan anak perempuan berharga separohnya. Anak-anak korban perdagangan itu sebagian besar diadopsi, namun sebagian lainnya menjadi pekerja paksa, seperti menjadi pengemis, namun sebagian besar sisanya menghilang begitu saja, kemungkinan menjadi korban ‘perdagangan organ tubuh’.

Praktik ilegal ini menjadi perhatian publik sejak 12 tahun lalu ketika polisi Guangxi menemukan 28 bayi di belakang sebuah bus. Mereka diberi obat penenang dan dimasukkan ke dalam tas nilon, seorang di antaranya meninggal. Para penculiknya ditangkap dan pemimpinnya dihukum mati.

Sebagaimana dilaporkan Xinhua, empat kelompok perdagangan anak-anak telah diringkus polisi bulan Februari lalu. Dalam praktiknya mereka melakukan “adopsi tidak resmi” dengan menjajakan dagangannya secara online. Operasi peringkusan itu berhasil menangkap 1.094 pelaku dan menyelamatkan 382 bayi.

Menurut laporan BBC, praktik ini masih berlangsung sampai saat ini. Salah satu faktor penyebabnya adalah adanya program pemerintah bagi pembatasan anak yang mengakibatkan banyaknya ‘bayi-bayi tak dikehendaki’. Untuk menghindari sanksi, para orang tua bayi-bayi itu sangaja menjualnya.

“Ada terlalu banyak bayi yang lahir di luar program keluarga berencana. Selama keluarganya setuju dan dilakukan segera setelah kelahiran, tidak ada yang akan mempermasalahkan,” kata seorang dokter kepada BBC.

Selain itu budaya paternalisme dimana anak laki-laki lebih disukai daripada anak perempuan, turut mempengaruhi tingginya praktik perdagangan bayi dan anak.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*