kerusuhan yunaniLiputanIslam.com — Hari Kamis (26/2) menjadi penanda babak baru bagi banga Yunani. Namun sayangnya, itu adalah sebuah penanda yang buruk.

Saat itu ratusan warga Yunani terlibat bentrokan dengan aparat keamanan yang mengakibatkan sejumlah orang terluka dan toko-tokoh dihancurkan. Bentrokan ini terjadi setelah ribuan orang berdemonstrasi menentang kesepakatan pemerintah dengan lembaga-lembaga donor yang disebut ‘Troika’: IMF, Uni Eropa dan Bank Central Eropa.

Bagi masyarakat Yunani, kesepakatan tersebut selain menjadi tanda bahwa penderitaan mereka karena program-program yang ‘kesederhanaan’ (austerity) akan terus berlanjut, juga menjadi bukti nyata bahwa pemerintahan baru yang mereka pilih, ternyata telah mengkhianati mereka.

Hanya sebulan setelah menduduki jabatannya, Perdana Menteri Alexis Tspiras dan Menteri Keuangan Yanis Varoufakis, dengan terang-terangan mengkhianati janji-janji mereka yang mengakibatkan rakyat memilih mereka dalam pemilihan umum lalu. Kala itu, dengan berapi-api keduanya berkampanye untuk menghentikan kerjasama dengan ‘Troika’ yang telah mengakibatkan penderitaan rakyat dengan skema ekonomi mereka yang mencekik leher.

Namun kemudian, dengan tanpa rasa bersalah mereka justru melanjutkan program ‘kerjasama’ itu dan masih bisa mengklaim apa yang mereka lakukan sebagai sebuah ‘kemenangan perang’.

Tanda-tanda pengkhianatan itu telah tampak ketika tiba-tiba saja kedua pejabat itu mengganti istilah ‘Troika’, yang memiliki konotasi buruk di mata rakyat Yunani, menjadi ‘Institusi-Institusi’, sebelum akhirnya mereka menandatangani perjanjian perpanjangan kerjasama, hari Jumat 20 Februari 2015. Mereka juga mengganti istilah “MoU” dengan “Kesepakatan”.

“Kita ingin memenangkan peperangan, bukan pertempuran,” kata Tspiras usai penandatanganan.

Untuk mengelabuhi publik, mereka juga menggelar jajak pendapat yang telah di’setting’ untuk menunjukkan dukungan atas tindakan mereka. Namun publik tidak bodoh. Maka, kemudian Tspiras mencoba meredam kemarahan publik lagi dengan mengatakan bahwa tidak akan ada lagi perpanjanga kedua, setelah perpanjangan kerjasama tanggal 20 Februari lalu yang berlangsung selama 4 bulan.

“Mengatakan bahwa kita telah berhasil menyelesaikan ‘Memorandum’ dan ‘troika’, hanya dengan mengganti istilahnya membuat saya sangat marah,” tulis warga Yunani Giannis Loverdos di Facebook.

“Ini seperti Tsipras, Varoufakis dan kawan-kawan mengatakan kepada saya: kami percaya bahwa Anda bodoh dan percaya dengan apapun yang kami katakan,” tambahnya.

Kemarahan juga terjadi di internal Partai yang dipimpin Alexis Tspiras, Syriza. Dengan dipimpin oleh anggota parlemen dan pahlawan Perang Dunia II Manolis Glezos (94 tahun), anggota-anggota Syriza pun melakukan pembangkangan.

Tidak lama setelah ditandatanganinya perpanjangan kerjasama dengan Troika, Glezos pun menyatakan permintaan ma’af kepada rakyat Yunani dan mengatakan:

“OXI! No! Tidak untuk perbudakan hutang, tidak untuk kelaparan, tidak untuk ketiadaan harapan, tidak untuk keputus-asaan!”

Kuda Troya Menkeu Yanis Varoufakis

Bahkan sebelum penandatanganan perpanjangan kerjasama dengan ‘Troika’ tanggal 20 Februari lalu, media-media massa independen telah mengingatkan kemungkinan pengkhianatan regim Alexis Tspiras. Tidak lain karena pasangan Tspiras yang bertugas sebagai menteri keuangan, Yanis Varoufakis, adalah kuda troya yang dikirim oleh kelompok neo-liberalisme pro-asing.

Selama tiga tahun aktif di Partai Syriza, Varoufakis telah berbicara dengan ‘semua pihak’: para demonstran anti-‘kesederhanaan’ di Lapangan Syntagma Athena, para pejabat Federal Reserve Bank of New York, anggota parlemen Eropa, analis Bloomberg di London dan New York, anggota parlemen Inggris, perusahaan-perusahaan keuangan di New York dan London. Hanya satu kelompok yang tidak pernah ia temui, yaitu para pekerja.

Tentu saja ini adalah sesuatu yang sangat janggal, mengingat selama ini Varoufakis dikenal sebagai, atau setidaknya media-media massa menyebutnya, sebagai seorang marxisme.

Dan alih-alih mengecam ‘Troika’ dan pihak-pihak yang bertanggungjawab atas hancurnya ekonomi Yunani karena jebakan hutang seperti saat kampanye lalu, Varoufakis kemudian justru memuji Jerman, donatur utama Yunani dalam skema ‘Troika’.

“Mereka (Jerman) telah membantu sangat banyak kepada Yunani,” katanya, meski faktanya dana-dana bantuan, talangan atau ‘bailout’ yang diberikan ‘Troika’, tidak sampai ke rakyat jelata. Sebagian balik kembali ke sumbernya berupa cicilan pokok dan bunga, biaya konsultasi, dan kontraktor-kontraktor proyek, dan sebagian lagi masuk ke kantong pribadi para pejabat korup. Sebaliknya, rakyatlah yang harus menanggung pembayarannya dari pajak yang mereka bayar yang terus membangkak, dan pada saat bersamaan dana-dana kesejahteraan sosial yang mereka terima disunat dengan dalih ‘kesederhanaan’ atau ‘ikat pinggang’.

Hal ini karena Varoufakis adalah putra dari pemilik perusahaan bajak terbesar di Yunani, Halyvourgiki. Dan sebagai seorang neo-liberalis yang orientasi politiknya melindungi kepentingan para pemilik modal asing, ia juga memiliki kewarganegaraan ganda, Yunani-Australia.

Dan sebagai seorang ‘borjuis’, ia menikahi artis Danae Stratou, meski sebelumnya ia telah memiliki keluarga. Tidak mengherankan jika para kapitalis Yunani seperti raja baja George Angelopoulos dan raja minyak dan banking Spiros Latsis, ramai-ramai menyatakan diri sebagai pendukung partai marxisme Syriza.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*