khomeini baghdadLiputanIslam.com — Dari bukan apa-apa kini menjadi sangat berarti. Itulah kalimat sederhana untuk menggambarkan peran dan kekuatan orang-orang Syiah saat ini di kawasan Timur Tengah.

Potret dua pemimpin spiritual Iran Ayatollah Khomeini dan Ayatollah Khamenei yang berdiri di Lapangan Baghdad, tempat dimana dahulu patung Saddam Hussein berdiri, menjadi simbol nyata betapa Iran kini telah menjadi ‘penguasa’ Irak. Namun selain Irak serta mendominasi politik Lebanon selama 15 tahun terakhir, orang-orang Syiah kini juga telah berhasil mengendalikan kekuasaan di Yaman, menimbulkan kekhawatiran serius di mata para penguasa regim Wahabi tetangganya.

“Kita tengah menyaksikan berkembangnya revolusi Islam Iran di kawasan ini,” kata Jendral Qassem Suleimani, komandan pasukan elit Iran Quds Force, minggu lalu, seperti dilaporkan Bloomberg News, Kamis (19/2).

“Dari Bahrain dan Irak ke Suriah, Yaman dan Afrika Utara,” tambah Suleimani.

Sampai 30 tahun yang lalu orang-orang Syiah adalah warga kelas dua di semua negara Arab. Bahkan di Lebanon, para pengungsi Palestina masih lebih berpengaruh dibanding orang-orang Syiah yang telah tinggal di negara itu ratusan tahun. Namun kini perkembangan pengaruh orang-orang Syiah telah menjadi kekhawatiran paling serius bagi para penguasa Wahabi di Timur Tengah.

“’Ancaman’ Iran terus bertambah kuat. Apakah karena keberhasilan mereka atau karena kegagalan kami, namun yang jelas Iran terus berkembang,” kata Jamal Khashoggi, penasihat Pangeran Turki al- Faisal, mantan kepala inteligen Saudi Arabia.

“Iran berhasil menjaga Bashar al-Assad di Suriah, berhasil membuat orang-orang Irak berpihak pada mereka, dan kini bergerak maju di Yaman,” tambahnya kepada Bloomberg.

Bloomberg menyebutkan bahwa dahulu hubungan antara Iran dengan kelompok Syiah Houthi di Yaman hanya menjadi isyu politik, namun setelah keberhasilan kelompok itu merebut kekuasaan baru-baru ini, semua pengamat meyakini bahwa Iranlah yang menjadi sumber dana dan inspirasi kelompok itu.

Iran sendiri tidak bisa lagi menyembunyikan dukungannya terhadap kelompok Houthi. Pada bulan Oktober 2014 lalu Ali Akbar Velayati, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, mengungkapkan keinginannya agar kelompok Houthi  bisa memainkan peran yang sama dengan kelompok Hizbollah di Lebanon, dengan kata lain menjadi kepanjangan tangan Iran dalam konstalasi perpolitikan kawasan.

Peran Iran di kawasan tidak bisa dipisahkan dengan pergolakan politik di kawasan itu akhir-akhir ini, terutama sejak munculnya gerakan “Musim Semi Arab” tahun 2010 hingga kemunculan kelompok teroris ISIS. Di Suriah, Iran dan sekutunya kelompok Hizbollah berhasil menjaga Presiden Bashar al-Assad dari kejatuhan setelah selama empat tahun dilanda perang sipil melawan milisi-milisi ektrem dukungan barat dan negara-negara Arab Wahabi serta Turki.

Pada saat yang hampir sama, kemunculan kelompok teroris ISIS di Suriah dan Irak berhasil menyatukan kelompok-kelompok Syiah Irak di bawah kendali Iran, sementara pada saat yang sama, Iran berhasil menanamkan pengaruhnya yang kuat di kalangan kelompok-kelompok Kurdi.

“Iran kini berada pada posisi yang lebih kuat di kawasan. Saudi Arabia tidak memiliki pilihan lain lagi kecuali membuka dialog dengan Iran,” kata Amir Mousavi, Direktur Center for Strategic Research and International Relations yang berbasis di Teheran, kepada Bloomberg.

Sementara itu, AS bahkan memilih untuk menyelesaikan konflik program nuklir Iran melalui perundingan, daripada menambah sanksi baru terhadap Iran. Meski untuk itu pemerintahan Presiden Barack Obama harus “bertengkar” dengan Israel dan para politisi oposisi Partai Republik yang menguasai parlemen.

Dan itu belum termasuk “berkah” luar biasa yang diberikan AS kepada Iran dengan menyerang Irak tahun 2003. Bermaksud menyingkirkan salah satu musuh potensial Israel, Irak justru “jatuh” ke tangan musuh utama AS-Israel, yaitu Iran.

Namun peran menonjol Iran tentu juga menimbulkan resistensi yang semakin kuat dari pesaing-pesaing Wahabi-nya.

“Selama Iran menempatkan pasukannya di Irak dan pasukan ataupun milisi di Suriah, dan terlibat dalam kericuhan di Bahrain, sangatlah sulit untuk bekerjasama dengan Iran,” kata Abdul-Rahman al-Rashed, seorang pengamat politik Saudi Arabia.

Sementara Mohammad Ali Mohtadi, peneliti senior Institute for Middle East Strategic Studies di Iran, mengatakan bahwa Presiden Iran Rouhani telah berusaha membuka pintu dialog dengan saingan-saingannya di kawasan.

“Namun belum ada tanda-tanda positif dari ‘pihak lain’,” kata Mohtadi.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL