Foto Sangkar manusia di jalanan Suriah

LiputanIslam.com — Tulsi Gabbard, politisi Amerika Serikat yang berasal dari Partai Demokrat secara terbuka mengecam pemerintah, atas dukungannya terhadap kelompok-kelompok ekstremis di Suriah. Melalui akun Facebook resminya, Gabbard menuliskan catatan bahwa kelompok yang didukung AS bukanlah kelompok moderat.

Hal ini tentu menjadi angin segar, mengingat pemerintah dan media AS selama ini menyebarkan propaganda bahwa mereka tengah berusaha menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang disebut diktator dengan mempersenjatai “pejuang kebebasan”, atau “kelompok moderat”.

Baca juga: Pemimpin Jaysh al-Islam Tewas Digempur Pasukan Rusia

Berikut ini, catatan selengkapnya:

Tewasnya salah satu komandan dari teroris “Army of Islam/ Jaysh al-Islam/ Tentara Islam” di Suriah, merupakan sebuah titik terang, yang akan membuka fakta. “Kelompok moderat”, begitulah sebutan dari AS, Arab Saudi, Turki dan sekutunya. Dan tentu saja, “kelompok moderat” ini telah dipersenjatai dan dilatih untuk menggulingkan pemerintahan Suriah yang dipimpin Assad.

Komandan itu berama Zahran Alloush, yang tewas pada tanggal 25 Desember oleh serangan jet tempur di Damaskus. Tewasnya Alloush membuat semuanya menjadi jelas. Kelompok yang didukung dan dipersenjatai oleh AS bukanlah kelompok moderat.

Tulsi_Gabbard,_official_portrait,_113th_CongressAlloush, yang berumur 40-an tahun, telah lama diketahui didukung oleh Arab Saudi dan Turki. Ia adalah salah satu komandan pemberontak yang sangat berpengaruh, mengatur ribuan anggotanya yang mengontrol wilayah Damaskus (dari Ghouta Timur dan Duma). Selain memerangi tentara Suriah, kelompok “Army of Islam” juga memerangi kelompok teroris ISIS yang bercokol di Damaskus.

Mantan narapidana ini, awalnya telah dibebaskan dari penjara atas amnesti yang diberikan oleh Assad. Alloush bergabung dengan kelompok bersenjata sejak Arab Spring meletus di Suriah pada Maret 2011. Bukannya membela negara – atau setidaknya bersikap baik setelah mendapatkan amnesti, Alloush malah menjadi komandan pasukan pemberontak.

Ia dikecam, disebut telah mempraktekkan hal-hal brutal yang biasa dilakukan oleh ISIS. Ia disalahkan oleh kelompok pemberontak lainnya pada Desember 2013, atas hilangnya beberapa aktivis, termasuk aktivis hak asasi manusia Razan Zaytouni. Ia membantah telah menahan para aktivis ini, kendatipun mereka semua diculik ketika berada di bawah kontrol “Army of Islam”.

Pada awal tahun 2015, ketika Angkatan Udara (AU) Suriah menggempur daerah pinggiran Damaskus, Alloush memaksa penduduk Alawi setempat untuk masuk ke dalam sangkar. Lalu sangkar ini ditempatkan di tempat-tempat umum dan pasar, sebagai tameng manusia. Dengan begitu, AU Suriah urung menggempur posisi mereka.

Sangkar-sangkar besi yang mengurung pria dan wanita ini juga ditempatkan di truk-truk yang berkeliaran di sekitar Damaskus.

Kelompok-kelompok ekstremis di Suriah seperti Army of Islam, Jabhat al-Nusra, dan lainnya, memiliki prioritas untuk menggulingkan Assad. Mereka pula, yang memerangi AS. Namun kita menempatkan diri dalam posisi yang absurd dan kontra-produktif. Kita mempersenjatai, membiayai, dan mendukung kelompok-kelompok ekstremis ini. Bukankah mereka adalah musuh kita? Bukankah itu berarti bahwa pada akhirnya, kita telah memperkuat musuh kita sendiri?

Solusinya: hentikan perang ilegal dan kontra-produktif yang bertujuan menggulingkan Assad ini. Lebih baik fokus untuk memerangi organisasi ekstremis dan siapapun yang tetap memerangi masyarakat Barat. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL