Foto: Tribunnews

Foto: Tribunnews

Jakarta, LiputanIslam.comDitengah banyaknya manusia yang berlomba-lomba untuk memperkaya diri dan golongannya, maka pengabdian yang dilakukan oleh seorang Dokter Lie adalah sesuatu yang langka.Dari koceknya, ia mewujudkan mimpi yang terdengar seperti mustahil: membangun rumah sakit apung. Kemudian berlayarlah Lie Dharmawan mengunjungi pulau-pulau kecil di Nusantara, mengobati ribuan warga miskin yang tak memiliki akses pada pelayanan medis.

Usianya sudah senja, hampir memasuki kepala tujuh. Namun dokter ahli bedah yang bernama lengkap Lie A Dharmawan PhD,  terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Bicaranya cepat, terstruktur, khas orang-orang yang tidak mau membuang waktu.Waktu memang bergulir cepat bagi Lie yang sehari-harinya dililit jadwal kerja yang padat.

Siang itu, 22 Desember 2013, ia bersama tim Dokter Peduli baru saja menyelesaikan pelayanan medis rutin di tempat pembuangan sampah di Semper, Cilincing, Jakarta Utara.Selain pengobatan, mereka juga memberikan penyuluhan hidup sehat dan bersih kepada keluarga pemulung.

“Mereka itu hidup dari sampah. Air yang ada di sekeliling mereka sangat tidak sehat. Dari empat sumur yang kami periksa, semuanya mengandung dua bakteri pembunuh, E Coli dan Pseudomonas,” kata Lie.

Hidup Lie memang sepenuhnya untuk pengabdian. Semangat ini pula yang mendorongnya mewujudkan sebuah rencana gila, yaitu membuat rumah sakit apung (floating hospital) pertama di Indonesia. Semua orang mencibir dan menyebutnya edan ketika ide itu dimunculkan tahun 2009. Tetapi, ia pantang mundur.

Ia sangat yakin, masyarakat tertinggal di Indonesia akan lebih mudah memperoleh akses pelayanan kesehatan dengan menggunakan kapal yang bisa masuk ke pulau-pulau kecil.

Kapal yang tahan gelombang dan mampu menyelenggarakan operasi sambil berjalan. Gila memang, tapi tak mustahil. Pada Maret 2013, impiannya terwujud. Rumah sakit apung itu berhasil dibangun di atas kapal phinisi dengan luas 23,5 x 6,55 meter.

Awalnya, kapal bekas yang terbuat dari kayu ulin itu, ia beli dengan harga Rp 600 juta. Biayanya dari menjual rumah. Kapal itu kemudian dimodifikasi menjadi dua tingkat dengan ruang operasi ditempatkan di lambung kapal.

“Kapal ini nilainya sekarang sudah lebih dari Rp 3 miliar. Kami memiliki fasilitas kamar bedah dengan segala peralatan memadai, ruang rontgen, EKG, USG, laboratorium, tempat untuk merawat delapan pasien sekaligus. Saya dibantu sponsor,” kata Lie, yang aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan Lions Club Bangga Indonesia.

Pelayaran perdana dilakukan ke Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Setelah itu, kapal pun melaju ke Manggar, Belitung Timur; Ketapang, Kalimantan Barat; dan September lalu merapat ke Bali, Labuhan Bajo (Flores Barat), dan Pulau Kei di Maluku.

“Sampai hari ini total kami sudah melaksanakan 178 operasi, mulai dari hernia sampai tumor, dan ada sekitar 2.000 warga yang sudah kami obati,” kata Lie. (ph/Tribunnews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL