drama akhir studiJakarta, LiputanIslam.com — Siapa yang mengira, jika beasiswa yang diterima dari Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia (Dikti), kini justru menjadi bumerang dan berpotensi membuatnya masuk penjara? Ya, itulah yang dialami Hanafi, seorang mahasiswa penerima beasiswa Dikti yang kini tengah menyusun desertasinya di Australia.

“Kejadian paling buruk di dunia dalam urusan ini adalah: saya dituntut pidana dan masuk penjara karena tidak bisa membayar hutang. Kalau itu yang terjadi, apa boleh buat. Paling tidak saya telah mencetak sejarah sebagai karyasiswa Dikti yang pertama masuk penjara karena tidak bisa bayar hutang untuk melunasi SPP-nya, gara-gara usulan perpanjangannya ditolak Dikti dengan alasan keterbatasan dana,” tulisnya.

Akibat dana beasiswa yang tersendat, Hanafi terpaksa meminjam dana sebesar 150 juta yang harus dilunasi akhir tahun untuk membayar SPP.

“Sekarang, sudah lebih dua minggu saya teralihkan secara alamiah dari berkonsentrasi menyelesaikan disertasi. Waktu pun terus berjalan dan hanya tersisa dua bulan lagi bagi saya menyelesaikan disertasi sebanyak 100.000 kata dalam bahasa Inggris ini. Selain biaya hidup pribadi dan keluarga di kampung yang harus saya cari sendiri disini, sekarang beban itu bertambah dengan hutang membayar SPP sebesar 150 jutaan,” tuturnya.

Kronologis kejadian selengkapnya yang terjadi pada Hanafi, bisa dibaca di sini.

Dari laporan Detik.com, Wamendikbud Musliar Kasim meminta para mahasiswa yang berada di luar negeri untuk tetap bersabar.

“Supaya bersabar, uangnya sebentar lagi datang,” ujar Kasim di Jakarta, Kamis, 18 September 2014.

Kasim menegaskan uang beasiswa akan dikirimkan sesegera mungkin. Kemendikbud juga akan memperbaiki skema pencairan beasiswa.

“Mekanisme pengeluaran beasiswa ke depan akan kita perbaiki. Uang beasiswa akan kita kirimkan sesegera mungkin. Tapi pengelolaannya ke depannya tahun depan sudah semuanya dengan model baru,” jelasnya.

Persatuan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) mengeluarkan pernyataan sikap yang menyesalkan terus berulangnya masalah dalam pengelolaan beasiswa bagi para mahasiswa Indonesia yang dikirim sekolah ke luar negeri oleh Dikti. Kemarin, PPIA juga mengeluarkan petisi atas nama Masyarakat Sipil Peduli Beasiswa mengenai masih banyaknya masalah menyangkut pengelolaan beasiswa tersebut. (ph)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL