edy-burmansyahJakarta, LiputanIslam.com–Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyebutkan adanya sisi positif dari penguatan dolar yang terjadi saat ini. Seperti dikatakan JK pada 17 Desember lalu, penguatan dolar justru akan membuat nilai ekspor Indonesia menjadi naik karena hampir seluruh ekspor dihitung dengan dolar.  Namun peneliti dari Martapura Institute, Edy Burmansyah, situasinya tidaklah sesederhana yang diungkapkan JK.

Menurut Edy, persoalan utama Indonesia adalah neraca perdagangan yang defisit. Artinya, kebutuhan dollar lebih besar dari pendapatan dollar dari ekspor. Apalagi, tidak semua ekspor itu dinilai dengan dollar.

“Datangnya investasi tidak bisa terjadi dalam satu malam, sehingga tidak bisa dikatakan melemahnya rupiah akan mendorong investasi asing masuk. Justru, penyebab anjloknya rupiah karena investor asing beramai-ramai menarik dollarnya dari Indonesia,” ujar Edy kepada liputanislam.com.

Edy menjelaskan, pertumbuhan ekonomi kita selama ini lebih banyak ditopang oleh sektor finansial (pasar keuangan dan pasar modal). Sejak tahun 2008, ketika krisis melanda Eropa dan Amerika, para pemain di pasar uang global (terutama di Amerika dan Eropa) mengalihkan dananya ke pasar-pasar yang sedang berkembang, di antaranya Indonesia. Mereka membeli berbagai instrumen di pasar modal, seperti saham, reksadana, SUN, dan lain-lain.

“Nah, ketika Amerika mengalami pemulihan ekonomi, suku bunga bank sentral dinaikkan, maka dana-dana tersebut kembali lagi ke Amerika. Selisih margin antara bermain di pasar modal Indonesia dan pasar Amerika, saat ini jauh lebih menguntungkan di Amerika. Selain itu, ketika mereka masuk ke Indonesia tahun 2008 dan membeli saham-saham dengan harga murah, kini sudah melonjak harganya. Jelas lebih untung buat mereka untuk menjual lagi saham itu lalu membawa kembali uangnya ke Amerika,” jelas Edy.

Selain itu, arus balik Dollar ke AS juga dipengaruhi sentimen nasionalisme. Karena, sekarang AS membutuhkan dana yang melakukan pemulihan pembangunan setelah krisis ekonomi 2008.

“Jadi, dengan keuntungan yang besar tersebut dan rasa nasionalisme itu, maka mereka membawa Dollar yang sangat besar kembali ke negara mereka,” sambungnya.

Dan jika terjadi penguatan rupiah dalam beberapa hari ini, menurut Edy, itu disebabkan karena pada Kamis pagi, 18 Desember 2014, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi, dan telah melakukan buyback SUN (Surat Utang Negara) untuk mencegah modal asing lari keluar.

“Namun pertanyaannya, seberapa kuat dan seberapa lama kemampuan intervensi BI?” tanya Edy.

Akibatnya, Indonesia mengalami krisis karena cadangan devisa terkuras (dollar ditarik keluar dari Indonesia). Padahal, di saat yang sama, Indonesia memiliki kewajiban pembayaran impor , cicilan hutang, dan lain-lain dalam bentuk dollar. Inilah yang membuat rupiah kita anjlok.(fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL