Sana’a, LiputanIslam.com–Rakyat Yaman kembali melewati bulan Ramadhan di tengah serangan militer dari koalisi Arab Saudi, blokade, kelaparan, dan krisis kemanusiaan yang kritis. Pada bulan Ramadhan kali ini, 3,3 juta warga Yaman terusir dan 24,1 juta membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Sejauh ini, menurut laporan dari jurnalis Mintpress News, Ahmed AbdulKareem, pesawat-pesawat tempur koalisi Saudi tidak memberi ampun di bulan paling suci Islam. Sejumlah daerah seperti Hajjah, Hodeida, al-Beida, al-Dali, dan Sana`a terus-menerus dibombardir dengan serangan udara.

Sebanyak empat warga, termasuk seorang wanita dan anak-anak, meninggal dunia  karena kelaparan di Hodeida selatan selama empat hari pertama Ramadhan. Sedikitnya 7.000 warga sipil terperangkap di distrik al-Durayhimi tanpa pasokan makanan dan obat-obatan.

Pada hari Kamis lalu, koalisi Saudi mencegah konvoi bantuan makanan dan sumbangan yang dikumpulkan oleh sesama warga Yaman untuk penduduk al-Durayhimi.

“Situasinya memburuk di al-Durayhimi, dan koalisi mencegah masuknya bantuan kepada anak-anak, perempuan, dan orang tua,” lapor Komisi Nasional untuk Pengelolaan dan Koordinasi Urusan Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana di Hodeida.

Warga Yaman sendiri sangat menyadari perbedaan mencolok antara Ramadhan sebelum dan sesudah perang.

“Sebelum perang, kami dulu memiliki ketenangan pikiran selama bulan Ramadhan dan fokus pada puasa dan sholat. Hari ini, kami berjuang hanya untuk tetap aman dari serangan udara, penembak jitu, peluru artileri, dan rudal,” kata Ali Atta, warga kota Hawk, Hodeida, kepada MintPress.

Bantuan makanan dari PBB yang diandalkan jutaan orang Yaman untuk konsumsi harian mereka, seringkali tidak menjangkau warga sampai kadaluarsa. Hal itu disebabkan oleh kurangnya fasilitas penyimpanan yang layak, pemadaman listrik yang konstan, dan sulitnya pendistribusian melalui jalanan berbahaya.

Meskipun begitu, beberapa keluarga Yaman tetap memilih mengkonsumsi makanan kadaluarsa ini.

“Kami tidak punya pilihan lain. Kami terpaksa menyaring kutu dari tepung dan menggunakannya untuk membuat sarapan,” kata Aisha (32), seorang ibu dari tiga anak kepada MintPress. Sejumlah kotak biskuit dan kaleng tuna kedaluwarsa dari organisasi bantuan Program Pangan Dunia terlihat berbaris di raknya. (ra/mintpress)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*