Mexico Drug War.JPEG-037ffLiputanIslam.com — Pada tanggal 26 September lalu dunia digemparkan oleh berita tentang penculikan 43 pelajar keguruan oleh aparat kepolisian kota Iguala, negara bagian Guerrero, Mexico. Diduga kuat para pelajar itu diserahkan oleh para polisi korup kepada kelompok mafia narkoba Guerrero Unidos, dan dieksekusi, sebagimana ribuan korban kejahatan mafia narkoba lainnya.

Peristiwa itu kembali mengingatkan publik dunia tentang dasyatnya dampak perdagangan narkoba di Mexico yang telah berlangsung bertahun-tahun dan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

“Perang Narkoba Mexico” yaitu istilah yang disematkan kepada kampanye pemberantasan perdagangan narkoba di Mexico yang berlangsung sejak awal millenium lalu hingga saat ini.

Pada tahun 2000 Presiden Vicente Fox melancarkan kampanye besar-besaran penumpasan perdagangan narkoba dan dilanjutkan oleh penerus-penerusnya hingga saat ini.

Sejak tahun 2006, ketika pemerintah mengerahkan militer untuk menumpas perdagangan narkoba dan menjadikan kampanye anti perdagangan narkoba sebagai perang sporadis yang sangat brutal tidak saja antara anggota mafia dengan aparat penegak hukum, namun juga antara organisasi-organisasi kejahatan narkoba, telah lebih dari 100.000 orang tewas, baik dari anggota mafia narkoba, aparat penegak hukum, maupun warga sipil.

Angka resmi korban tewas akibat “Perang Narkoba” antara tahun 2006 hingga 2012 adalah 60.000 jiwa. Namun para pengamat memperkirakan angka sesungguhnya mencapai 2 kali lipat, atau 120.000 jiwa. Ini belum termasuk 27.000 orang yang dinyatakan hilang.

Para pengamat memperkirakan nilai perdagangan narkoba di Mexico mencapai $13 miliar hingga $50 miliar.  Sebagian besar narkoba itu berasal dari negara-negara Amerika Latin dan dipasarkan ke pengguna akhirnya di Amerika. Tidak terlalu mengherankan jika kegiatan “bisnis kotor” perdagangan narkoba itu sulit diberantas, karena nilainya yang menggiurkan itu cukup untuk menjerat pejabat dan aparat keamanan Mexico untuk menjadi pendukung gelap bisnis itu. Seperti halnya para pejabat dan aparat kepolisian kota Iguala.

Sebagai contohnya, kartel Los Zetas Cartel beranggotakan mantan anggota pasukan elit Mexico yang ditugaskan untuk menumpas para penjahat. Awalnya mereka membelot dan menjadi pengawal dan pembunuh bagi kelompok Gulf Cartel. Namun karena telah mengenal seluk-beluk bisnis menggiurkan itu, mereka pun akhirnya membentuk kelompok pengedar narkoba sendiri.

Sementara itu AS, selain menjadi pasar tujuan akhir narkoba-narkoba itu, juga dianggap turut mendukung terjadinya aksi-aksi kekerasan bersenjata di Mexico terkait perdagangan narkoba. Terlepas dari dokumen rahasia yang bocor yang menunjukkan AS menggelar operasi inteligen “Fast and Furious” untuk membagi-bagikan ribuan senjata api kepada para anggota mafia narkoba Mexico, ada 6.700 pedagang senjata api berlisensi di sepanjang perbatasan AS dengan Mexico, sementara di sisi Mexico sendiri hanya ada satu.

Pada bulan September tahun 2010 Presiden Mexico mengatakan kepada CNN en Español, “Kami tinggal di sebelah negara pemakai narkoba terbesar di dunia dan seluruh pedagang di seluruh dunia ingin menjualnya ke sana melalui jendela dan pinta kami. Dan kami tinggal di sebelah negara penjual senjata terbesar di dunia yang menyuplai para penjahat.”

Jelas sekali Calderon menunjuk pada Amerika. CNN baru-baru ini menuliskan laporan tentang kronologi Perang Narkoba Mexico sejak tahun 2006. Berikut adalah sebagian dari ringkasannya.

Tahun 2006:
Javier Arellano Felix, pemimpin Tijuana Cartel, ditangkap di atas kapal nelayan di Semenanjung Baja.

Presiden yang baru terpilih Felipe Calderon mengerahkan lebih dari 6.500 tentara ke negara bagian Michoacán untuk memerangi perdagangan narkoba di sana.

Tahun 2007:
Osiel Cardena Guillen, mantan pemimpin Gulf Cartel diekstradisi ke AS.

Lebih dari 20.000 tentara dan polisi federal disebar ke seluruh Mexico untuk memeragi perdagangan narkoba.

284 komandan polisi federal dipecat karena menerima suap dari kelompok pedagang narkoba.

Tahun 2008:
Alfredo Beltran Leyva, pemimpin Beltran Leyva Cartel, ditangkap polisi di Culiacan, Sinaloa.

Roberto Velasco Bravo, Direktur Investigasi Kejahatan Terorganisir Mexico tewas ditembak di Mexico City.

Jendral Edgar Eusebio Millan Gomez, kepala kepolisian federal Mexico dan 2 pengawalnya, tewas dalam serangan bersenjata di Mexico City.

Komandan satuan penyidikan kepolisian Mexico City, Esteban Roble Espinosa, tewas ditembak di depan rumahnya.

Dalam acara peringatan hari kemerdekaan di lapangan kota Morelia, serangan granat menewaskan 8 orang. Insiden ini dianggap sebagai aksi terorisme pertama selama Perang Narkoba.

Kepala kepolisian federal Victor Gerardo Garay, mengundurkan diri di bawah kecurigaan publik atas keterlibatannya dengan kelompok kriminal.

Dalam setahun ini sebanyak 6.844 orang dinyatakan tewas karena terkait dengan Perang Narkoba.

Pemimpin Los Zetas Cartel, Braulio Arellano Dominguez, tewas dalam tembak-menembak dengan aparat penegak hukum di Soledad de Doblado.

Tahun 2009:
Arturo Beltran Leyva, pimpinan kelompok Beltran Leyva Cartel, tewas ditembak aparat keamanan di Cuernavaca.9.635 orang dinyatakan tewas terkait dengan Perang Narkoba.

Tahun 2010:
Carlos Beltran Leyva ditangkap polisi di Sinaloa. Ia adalah pemimpin ketiga kelompok Beltran Leyva Cartel yang tewas atau tertangkap.

Osiel Cardenas Guillen, pimpinan kelompok Gulf Cartel dijatuhi hukuman penjara selama 25 dan diharuskan membayar denda $50 juta.

Pedro Roberto Velazquez Amador, pimpinan kelompok Beltran Leyva di San Pedro, tewas dalam tembak-menembak dengan aparat penegak hukum di utara Mexico.

Edgar Valdez Villarreal (“La Barbie”), seorang warga AS, dituduh telah mengedarkan ribuan kilogram kokain ke AS melalui Mexico. Sampai tahun 2010 ia masih menjadi buronan dengan hadiah $2 juta.

Pemimpin kelompok Sinaloa Cartel, Manuel Garibay Espinoza, ditangkap aparat di Mexicali.

Ignacio “Nacho” Coronel Villarreal, salah seorang pemimpin kelompok Sinaloa tewas oleh serangan aparat kepolisian di Guadalajara.

Mayat 72 imigran asal Amerika Latin ditemukan di sebuah kompleks perkebunan di negara bagian Tamaulipas. Polisi menduga 58 pria dan 14 wanita itu dibunuh oleh kelompok Los Zetas Cartel yang telah menculiknya. Mereka dibunuh karena menolak menjadi pengedar narkoba.

Jaksa Agung Arturo Chavez mengumumkan sebanyak 30.000 orang lebih tewas selama kampanye Perang Narkoba yang berlangsung selama 4 tahun.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL