Washington, LiputanIslam.com—Baru-baru ini pemerintah Presiden AS Donald Trump menerapkan kebijakan imigrasi yang melegalkan pemisahan anak-anak imigran dari orangtua mereka. Hal ini mendapat banyak kecaman dari domestik maupun luar negeri.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa kebijakan seperti ini telah dilakukan oleh Negeri Paman Sam itu sejak lama, yaitu kepada masyarakat pribumi Amerika, yaitu suku Indian.

Mark Trahant, seorang jurnalis independen dan profesor jurnalisme di Universitas Dakota Utara, memaparkan sejarah Amerika yang diskriminatif ini dalam artikelnya yang dimuat di Mintpress News pada Selasa (19/6/18).

Trahant, dalam artikelnya, mengutip tulisan dari seorang aktivis dan politikus, Peggy Flanagan di Twitter: “Langkah memisahkah anak-anak dari orangtua mereka bukan hal baru di AS. Memisahkan anak-anak dari keluarga mereka … dengan mengirim anak-anak Pribumi ke sekolah asrama, dan melakukannya atas nama agama, adalah satu generasi yang dihapus dari keluarga saya,”

Pada akhir abad ke-19, pemerintah AS mendirikan sekolah asrama khusus anak-anak suku Indian, di mana anak-anak tersebut diwajibkan mempelajari bahwa Inggris, berpindah agama ke Kristen, dan mangasimilasi budaya mayoritas.

Sekolah ini beroprasi pada 1980-an. Karena sekolah-sekolah ini sering melarang siswa Indian menggunakan bahasa asli mereka dan mempraktikkan budaya dan tradisi mereka, seorang penulis Amerika, Ward Churchill, menilai tindakan itu sebagai bentuk genosida terhadap komunitas Indian.

Sekolah asrama tersebut dibuat seperti penjara anak, di mana anak-anak Indian dibawa ke sana dengan borgol kecil.

Dari sebuah artikel berjudul “Tiny Horrors: A Chilling Reminder of How Cruel Assimilation Was—And Is” yang diunggah di newsmaven.io, borgol anak Indian itu masih tersimpan di museum Haskell Indian Nations University.

“[Borgol kecil itu] menyimpan sejarah horor dan brutal, di mana alat itu dipakai untuk mengekang anak-anak Pribumi yang dibawa ke sekolah asrama,” kata alumnus Haskell Indian Nations University, Jessica Lackey.

 

Presiden Akademi Kedokteran Anak Amerika, Colleen Kraft, mengatakan kepada Buzzfeed News bahwa pemisahan anak yang terjadi dulu dan sekarang dapat menyebabkan “kerusakan perkembangan anak hingga seumur hidupnya dengan merusak struktur anak…,”

Dalam sebuah studi pada 2013 oleh Journal of Family Issues, peneliti menemukan bahwa “kebijakan akulturasi paksa [dengan memisahkan anak dengan orangtua] selama berdekade terakhir [menciptakan] kondisi seperti depresi, kemarahan, perasaan bersalah, gelisah, dan perasaan tidak mampu dalam pengasuhan anak.”

Trahant, dalam artikelnya, menyimpulkan bahwa kebijakan pemisahan anak yang diterapkan oleh pemerintah AS dari dulu hingga kini telah merusak hubungan orangtua-anak yang penting bagi perkembangan hidup manusia.

“Hubungan generasional dinilai penting karena orang tua dilihat sebagai gudang pengetahuan budaya, spiritualitas, dan bahasa tradisional. Pengalaman hidup mereka sangat dihargai, dan mereka menjadi tempat mencari nasehat dan petunjuk. Ketika hubungan ini dirusak, konsekuensinya berlanjut sampai generasi selanjutnya,” paparnya. (ra/mintpress)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*