presiden luganskLugansk, LiputanIslam.com — Pemimpin separatis Lugansk dan Presiden Republic Rakyat Lugansk (LPR) Igor Plotnitsky, menantang Presiden Ukraina Petro Poroshenko untuk berduel. Ia menyebut itu adalah cara terbaik untuk mengakhiri konflik berdarah di Ukraina.

“Saya sarankan Anda satu hal, dan ini adalah skenario yang sangat baik,” tulis Plotnitsky dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Poroshenko.

“Mari kita berkelahi. Siapa yang menang, ia yang menentukan syarat perdamaian,” tambahnya, sebagaimana dilaporkan Russia Today, Rabu (19/11).

Plotnitsky merujuk pada pemimpin Slavia dan Cossack di masa lalu yang memilih berduel untuk menyelesaikan perang.

Plotnitsky menyebut syarat-syarat perdamaian yang akan diambilnya jika menang duel, di antaranya gencatan senjata dengan segera, penarikan semua pasukan Ukraina ke luar wilayah administratif Lugansk dan Donetsk, dan dimulainya perundingan perdamaian antara Ukraina di satu pihak dengan Donbass (Lugansk dan Donetsk) di pihak lain.

“Agar perkelahian berjalan adil, setiap pihak boleh membawa 10 orang saksi dan wakil-wakil media massa,” kata Plotnitsky lagi.

Ia menyebut, tidak keberatan jika perkelahian disiarkan secara langsung di televisi dan mempersilakan Poroshenko untuk menentukan lokasi dan jenis senjata yang digunakan dalam perkelahian itu.

“Mengapa harus saling memprovokasi warga untuk saling membenci dan menghancurkan? Anda dan saya membutuhkan waktu berpuluh tahun untuk menyembuhkan luka (akibat perang). Bukankah lebih baik jika kita akhiri semua permusuhan ini dalam sebuah perkelahian yang adil?” tambahnya lagi.

Plotnitsky berharap mendapat jawaban secepatnya dari Poroshenko, karena setiap jam sangat berarti, “setiap jam penundaan membawa korban-korban baru, penderitaan-penderitaan dan biaya yang harus ditanggung rakyat Donbass dan Ukraina.”

Menanggapi surat terbuka itu Jubir Kemenlu Ukraina Evgeny Perebiynis menyebutkan bahwa perkelahian seharusnya yang harus dilakukan Plotnitsky adalah di pengadilan.

Pada hari Rabu (19/11) Perdana Menteri Ukraina Arseny Yatsenyuk menyatakan penolakannya untuk menggelar perundingan langsung dengan separatis.

“Kami tidak akan menggelar perundingan langsung dengan teroris-teroris Rusia,” kata Arseny Yatsenyuk dalam pertemuan dengan pejabat-pejabat keamanan.

Menyusul kudeta terhadap Presiden Victor Yanukovych 21 Februari lalu, warga Provinsi Lugansk dan Donetsk menggelar referendum pada bulan Mei lalu, disusul dengan pembentukan negara baru gabungan dari 2 negara Republik Rakyat Lugansk dan Republik Rakyat Donetsk. Negara baru itu diberi nama “Novorossiya” atau Rusia Baru.

Sementara itu, untuk menghentikan gerakan separatisme, pada bulan April pemerintah Ukraina mengerahkan pasukan ke kedua wilayah itu.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL