cnbcLiputanIslam.com — Sebagai negara besar yang menempati posisi geopolitik yang strategis, pemilu di Indonesia tentu menjadi perhatian media-media massa internasional. Dan salah satu media tersebut adalah CNBC yang merupakan salah satu jaringan media terbesar di Amerika.

Dalam satu artikelnya yang dimuat di situs CNBC.com hari Selasa (8/4), media ini menurunkan satu artikel tentang pemilihan legislatif Indonesia yang ditulis oleh Leslie Shaffer, berjudul “Why Indonesia’s parliamentary elections matter”, atau “Mengapa Pemilu Legislatif Indonesia Berarti?”.

LiputanIslam tertarik mengupas artikel ini sebagai pengetahuan tentang persepsi media Amerika, yang merupakan representasi terkuat publik Amerika, tentang pemilu Indonesia kali ini.

Menurut artikel ini pemilu legislatif akan menjadi batu loncatan terpenting bagi penentuan presiden Indonesia mendatang yang pemilihannya akan digelar bulan Juli.

“Pemilu berlangsung pada saat yang krusial, dengan kondisi ekonomi yang tergopoh-gopoh dan kepemimpinan saat ini yang rendah,” tulis CNBC mengutip seorang analis ekonomi.

“Pemilu legislatif ini masih berarti dalam hal menentukan kemampuan presiden mendatang dalam memimpin kebijakan,” tambahnya.

Jika hasil pemilu legislatif ini bisa menjadi prediksi pemilu presiden mendatang akan berjalan hanya satu putaran, ini akan berdampak positif bagi pasar, demikian tulis CNBC.

Dan sebagaimana media-media massa mainstream Amerika lainnya, CNBC menampilkan sosok Jokowi sebagai kandidat presiden Indonesia yang paling “diterima pasar”. Menurut artikel tersebut, Jokowi dipandang publik sebagai figur yang bersih dan reformis yang tidak menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri. CNBC pun menampilkan beberapa komentar positif tentang Jokowi.

“Jokowi tentu saja adalah figur yang sangat-sangat tepat untuk menaklukkan pasar,” kata Edward Lee, analis dari Standard Chartered, sebagaimana dikutip CNBC.

“Sebagai gubernur Jakarta, ia telah membuktikan kemampuannya dalam beberapa hal, pertama tidak koruo, kedua berhasil mengatasi masalah-masalah yang berkaitan langsung dengan kepentingan publik,” kata Amarjit Singh, seorang analis senior IHSG, kepada CNBC.

Meski demikian CNBC mengakui bahwa dalam pemilu di Indonesia, faktor “figur” sangat berpengaruh daripada “program”. CNBC juga menyoroti para kandidat capres yang belum berani menyampaikan platform ekonominya, kecuali Prabowo.

“Sampai tahap ini, semua orang berjalan pada masalah personalitas dan berharap bahwa personalitas di belakang partai akan bisa membawa kemajuan bagi partai,” tulis CNBC.

CNBC pun menyebut Prabowo Subianto sebagai kandidat presiden lainnya yang paling populer. Sementara presiden SBY dianggap sebagai figur yang “sudah jatuh”.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*