electionWashington, LiputanIslam.com–Polling yang dilakukan oleh Asosiasi Psikologi Amerika memperlihatkan pemilihan presiden 2016 menyebabkan rasa stres yang sigifikan terhadap mayoritas warga AS.

“Menghadapi kontes paling bekonflik dalam sejarah dan pemberitaan harian yang mendominasi media masa, 52 persen orang dewasa Amerika melaporkan pemilu 2016  menjadi sumber perasaan stres yang signifikan,” demikian tulisan preview polling tersebut.

Persaingan kedua kandidat menjadi isu yang dipublikasikan besar-besaran selama berbulan-bulan di semua media. Kampanye kedua kandidat dinilai sebagai sumber emosi kuat dari kedua kubu pemilih.

“Rasa stres dan frustrasi dari pemilu ini memburuk karena berbagai argumen, cerita-cerita, gambar, dan video yang disebarkan di media sosial, terutama karena ribuan komentar yang terbentang dari komentar faktual, bermusuhan, sampai yang menghasut,” kata Lynn Bufka, PhD, direktur eksekutif untuk penelitian dan kebijakan APA.

Survey ini juga memperlihatkan perasaan stres ini lebih banyak dirasakan oleh pengguna sosial media. 54 persen pengguna sosial media mengklaim pemilu menyebabkan stres, dibandingkan dengan 45 persen non-pengguna. Tidak ada perbedaan besar antara jenis kelamin, yaitu 51 persen pria dan 52 persen wanita.

“Pemilu ini adalah salah satu yang paling menjijikkan yang pernah kulihat,” kata seorang warga, Randall Piona, dikutip dari berita CBS San Francisco.

“Ini seperti dua anak SMA berkelahi dan saling memanggil dengan panggilan buruk,” kata Antrone Bradford. (ra/sputniknews)

DISKUSI:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL