pm libyaTripoli, LiputanIslam.com — Pemerintahan interim Libya di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Abdullah Thinni mengundurkan diri, untuk memberi kesempatan parlemen membentuk pemerintahan baru.

Demikian laporan RIA Novosti mengutip kantor berita Inggris Reuters, Jumat (29/8).

“Ini adalah langkah rutin. Tidak ada konflik antara Thinni dan parlemen,” kata seorang anggota parlemen sebagaimana dikutip RIA.

“Thinni adalah kandidat yang akan membentuk pemerintahan mendatang,” tambahnya.

Menurut laporan Reuters, kabinet Thinni mengundurkan diri sesuai konstitusi, untuk memungkinkan Parlemen (House of Representatif) membentuk pemerintahan baru yang mewakili semua kelompok masyarakat.

Langkah ini mengikuti langkah parlemen lama yang didukung kelompok-kelompok Islamis, General National Congress (GNC), yang mengangkat Omar Hassi sebagai perdana menteri dan memerintahkannya menyusun kabinet. Langkah ini menyusul kemenangan kelompok-kelompok militan Islamis merebut bandara internasional Tripoli dari kelompok militan nasionalis-sekuler, minggu ini.

Thinni ditunjuk sebagai perdana menteri parlemen sejak Maret lalu. Namun karena alasan keamanan, pemerintahan Thinni dan parlemen yang mendukungnya memindahkan pemerintahan ke kota Tobruk, 600 km sebelah timur Tripoli.

Setelah kelompok Islamis berhasil merebut bandara Tripoli, parlemen lama (GNC) pun mengaktifkan diri lagi sehingga secara efektif Libya memiliki 2 parlemen dan 2 pemerintahan.

Sejak tumbangnya pemerintahan Muammar Gaddafi tahun 2011, Libya mengalami ketidak stabilan politik. Kelompok-kelompok bersenjata yang dulunya berperang melawan Gaddafi, menolak membubarkan diri dan saling bersaing merebut kekuasaan.

Setelah beberapa tahun, kelompok-kelompok militan itu mengelompok ke dalam 2 kubu, yaitu kubu Islamis dan kubu nasionalis-liberal.

Akibat konflik yang berkepanjangan ini, banyak perwakilan asing telah mengevakuasi pegawainya dari Libya, termasuk PBB.

Kemenlu Rusia, hari Senin lalu (25/8), menyebut kekacauan di Libya saat ini adalah akibat upaya paksa AS dan NATO mendemokratisasikan Libya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL