liyba-oilTripoli, LiputanIslam.com — Pemerintah Libya kembali menguasai terminal-terminal minyak utama di kota Ras Lanuf dan Sidra yang dikuasai kelompok militan sejak tahun lalu.

Pemerintah menyebutkan, dengan kembalinya terminal-terminal minyak itu di bawah kontrol pemerintah, krisis minyak di negeri itu pun berakhir. Menurut pemerintah, pengembalian kontrol tersebut merupakan kesepakatan dengan kelompok militan dengan imbalan otonomi lebih besar di wilayah yang memiliki terminal minyak itu.

Pada bulan April lalu pemerintah juga berhasil menguasai kembali 2 terminal minyak besar di wilayah timur Libya. Demikian laporan BBC.

“Hari ini kami menguasai kembali terminal-terminal minyak di Ras Lanuf dan Sidra,” kata pelaksana perdana menteri Minister Abdullah al-Thani dalam konperensi pers bersama dengan pemimpin kelompok militan Ibrahim Jathran.

“Kami telah berhasil mencapai kesepakatan untuk mengatasi krisis minyak ini,” tambahnya.

Jathran membenarkan kesepakatan itu dan menyebutnya sebagai itikad baik kedua pihak.

Terminal-terminal di kedua kota itu memiliki kapasitas produksi 500.000 barrel per-hari atau 1/3 dari total produksi minyak Libya. Namun demikian masih ada kendala-kendala teknis yang harus diselesaikan sebelum produksinya bisa pulih sepenuhnya.

Sebelum terjadinya krisis, produksi minyak Libya mencapai 1,5 juta barrel per-hari, atau hampir 2 kali lipat produksi minyak Indonesia. Namun kondisi berubah drastis setelah rezim Moammar Khadafi digulingkan oleh pemberontakan kelompok-kelompok militan dukungan NATO dan Arab tahun 2011.

Setelah tergulingnya Khadafi tidak ada lagi pemerintahan yang kuat dan kelompok-kelompok militan menjadi penguasa-penguasa wilayah masing-masing dan terus-menerus terlibat pertikaian dengan kelompok-kelompok lainnya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL