gencatan senjata ukrinaKiev, LiputanIslam.com — Pemerintah dan separatis Ukraina akhirnya menandatangani kesepakatan gencata senjata, mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama hampir 5 bulan yang menewaskan ribuan orang.

Kedua pihak setuju menghentikan tembak-menembak mulai hari Jumat (5/9) pada pukul 15.00 GMT, namun separatis mengatakan tidak akan menghentikan upaya pemisahan diri dari Ukraina.

Sementara itu para duta besar Uni Eropa sepakat untuk meningkatkan sanksi terhadap Rusia dengan menambah beberapa perusahaan dan individu ke dalam daftar sanksi.

Pembicaraan gencatan senjata yang dilakukan di ibukota Belarus, Minsk, ditengahi oleh organisasi kerjasama keamanan Eropa (OSCE), melibatkan mantan Presiden Ukrainian, para pemimpin separatis dan delegasi dari Rusia.

Kedua pihakpun akhirnya sepakat untuk melakukan gencatan senjata dengan OSCE sebagai pengawasnya. Namun detil kesepakatan yang menyertai gencatan senjata itu tidak diumumkan.

Usai tercapainya kesepakatan, Presiden Ukraina  Petro Poroshenko mengatakan kepada wartawan bahwa gencatan senjata berdasarkan pada 12 poin rencana damai termasuk pembebasan tawanan kedua pihak yang dilaksanakan hari ini (6/9).

“Adalah sangat penting bahwa gencatan ini akan berlangsung lama, dan selama itu kami akan melanjutkan dialog politik untuk membawa perdamaian dan stabilitas,” kata Poroshenko.

Sebelumnya pada hari yang sama (5/9) pertempuran dilaporkan terjadi di kota Donetsk dan Mariupol, kota di tepi Laut Azov, 110 km di selatan Donetsk. Para saksi mata mengatakan terdengar 3 ledakan hebat terdengar di Donetsk, hanya beberapa saat sebelum gencatan senjata dimulai.

Wartawan BBC melaporkan korban masih berjatuhan beberapa jam sebelum gencatan senjata dimulai.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa tank-tank Ukraina telah ditarik dari sebelah timur kota Donetsk. Sementara itu para pemberontak mempertahankan posisinya di luar kota Mariupol.

Dalam perkembangan lain, pada pertemuan puncak NATO di Wales, Inggris, sepakat untuk membentuk pasukan gerak cepat multi-nasional yang bisa digerakkan dalam waktu 48 jam.

Pada penutupan pertemuan, Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen mengatakan bahwa tindakan Rusia di Ukraina telah “membangunkan” anggota-anggota NATO untuk membentuk pasukan reaksi cepat.

Namun ia tetap menyatakan dukungannya atas tercapainya gencatan senjata dengan berharap hal itu akan menjadi “awal proses politik yang konstruktif”.

Bagaimana pun Rusia bereaksi keras dengan rencana pembentukan pasukan gerak cepat NATO itu serta rencana-rencana lainnya bersama Ukraina yang dituduhnya bakal memicu ketegangan di kawasan.

Sebagaimana diketahui, NATO akan menggelar latihan perang di Ukraina tahun ini sebelum bergabungnya Ukraina dengan NATO.

Sementarat itu pemimpin KOmisi Eropa Jose Manuel Barroso, hari Jumat (5/9) mengumumkan sanksi baru kepada Rusia dengan menambahkan beberapa perusahaan dan individu di Rusia ke dalam daftar mereka yang dicekal bepergian dan dibekukan aset-asetnya.

Di antara daftar baru itu adalah para pemimpin separatis Ukraina, pejabat Krimea dan beberapa pejabat dan pengusaha Rusia.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL