Washington, LiputanIslam.com—Polisi Amerika telah menewaskan 1.166 orang selama tahun 2015, sebanyak tiga jiwa dalam sehari. Namun, pemerintah AS hanya mampu menghitung setengah dari kasus-kasus kematian tersebut. Demikian catatan dari penelitian terbaru oleh Harvard berdasarkan data dari media asal Inggris, The Guardian.

Menurut studi itu, pemerintah AS mengklaim lebih dari setengah kasus kejahatan polisi selama 2015 diklasifikasi tidak terhubung polisi sama sekali.

Ketika The Guardian mampu menghitung  93 persen kematian yang disebabkan oleh polisi, US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) hanya bisa menghintung 45 persen saja.

“Itu kelihatan aneh bahwa koran Inggris mampu menghitung jumlah pembunuhan polisi lebih baik daripada CDC atau Departeman Kehakiman,” kata penulis dan kandidat doktoral di Harvard T.H. Chan School of Public Health, Justin Feldman.

“Jika kita sebagai masyarakat ingin memperbaiki tindakan polisi dan mengurangi kematian, kita butuh data yang lebih baik tentang kenyataan kasus kematian ini,”  katanya dalam wawancara dengan The Guardian .

Feldman menemukan bahwa orang kulit hitam, anak-anak, dan orang-orang dari kawasan miskin lebih sering tidak diklaim atau dilaporkan dalam penghitungan oleh pemerintah.

Polisi AS telah menjadi target kecaman selama beberapa tahun terakhir karena membunuh banyak orang kulit hitam atau kalangan Afrika-Amerika.

Sejumlah demonstrasi digelar di seluruh kawasan AS untuk memprotes pembunuhan polisi terhadap pria Afrika-Amerika tak bersalah, seperti Michael Brown di Ferguson, Missouri; Tamir Rice di Cleveland, Ohio; Eric Garner di Staten Island, New York dan Walter Scott di North Charleston, South Carolina.  (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL