ashraqat1LiputanIslam.com— Ashraqat Qatanani adalah seorang gadis cantik usia 16 tahun. Seyogyanya, di usia belia seperti itu, ia menikmati masa remaja yang indah. Namun hal itu tidak memungkinkan baginya karena ia terlahir di tanah Palestina yang terjajah.

Tumbuh dalam didikan ayahnya yang ahli agama, Qatanani telah menampakkan semangat dan keberaniannya sejak dini. Di sekolahnya, ia aktif mengajak teman-temannnya untuk berjuang. Ia membacakan puisi cinta tanah air yang disambut gemuruh tepuk tangan.

Akhirnya, Intifada 3 pun terjadi. Rakyat Palestina bangkin melawan kebiadaban militer Israel dengan bersenjatakan pisau. Qatanani pun menyambutnya dengan penuh semangat. Ia berkata, “Akhir pendudukan telah dekat, Insya Allah. Dengarlah, wahai generasi yang bernama ‘Generasi Oslo’. Inilah kami. Putra-putri Palestina yang akan mencampakkan kalian dari negeri ini. Kami akan mengembalikan martabat dan membalaskan dendam bagi orang-orang yang merdeka. Kami yakinkan kepada Zionis, bahwa pembalasan yang keras akan datang kepada Anda dan hanya menunggu waktu…”

Qatanani melihat kejamnya pendudukan Israel sejak masih kecil. Suatu ketika, ia berada di rumah hanya dengan saudaranya, ketika tentara Israel memasuki rumah meraka. Ia menunjukkan dokumen-dokumen orang tuanya, dan menjaga kedua adiknya sampai pagi. Saat usia 8 tahun, ia melihat ayahnya dihajar oleh tentara Zionis dan ditahan. Ia mengunjungi ayahnya di penjara, memeluknya sambil menangis.

Qatanani sangat mencintai penduduk Gaza, dan merasa sangat terpukul ketika Israel membakar Mohammad Abu Khdeir dan keluarga Dawabsha hidup-hidup. Ia pun menulis di akun Facebooknya, mengecam keras kebisuan masyarakat atas musibah demi musibah di Palestina.

“Mereka membakar bayi. Orang-orang langsung memerangi (ISIS-red) ketika seorang pilot pembunuh dibakar hidup-hidup, tetapi tidak memerangi (tentara Zionis-red) yang membakar bayi. Anda biadab. Anda telah mempermalukan agama Muhammad Saw dengan moral serendah itu. Pada hakekatnya, bukan Zionis yang membakar bayi Palestinia, tetapi Anda orang-orang Arab ketika Anda telah mengabaikan hak-hak Abu Khdeir.”

Israel adalah negara ilegal yang sangat kecil. Jika seluruh orang-orang Arab serentak mengencinginya, niscaya Israel akan tenggelam. Namun alih-alih bersatu melawan Israel, negara-negara Arab monarkhi justru bersekutu dekat dengan Israel. Sedangkan negara Arab yang gigih menentang Israel yaitu Suriah, kini dilemahkan dengan terorisme yang disponsori oleh negara-negara Arab Teluk, Turki, dan negara-negara Barat.

Bungkam atau membantu pelaku kezaliman, sama jahatnya dengan melakukan kezaliman itu sendiri.

Ketika Intifada 3 meletus, gadis ini tidak mau melewatkan kesempatan untuk melawan. Suatu ketika, ia mengambil pisau dapur dan berlari menuju pos tentara Israel dan menikamnya. Akibatnya, Qatanani pun diserang balik hingga gugur sebagai syahid.

Ia meninggalkan lima wasiat, yaitu:

  1. Jika saya menjadi martir, maka berikanlah organ tubuh saya bagi orang-orang yang membutuhkan.
  2. Ayah, jika saya martir janganlah marah ataupun menangis.
  3. Jika rezim penindas itu menahan tubuh saya, menjadikannya sebagai alat untuk tawar menawar maka jangan terima hal itu.
  4. Jika saya martir, biarkan orang-orang tahu bahwa saya adalah putri Palestina, bukan bagian dari organiasi manapun.
  5. Jika saya martir, janganlah melepaskan tembakan ke udara.

Qatanani adalah pengagum Sayyid Hasan Nasrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah. Ia menganggap bahwa Nasrallah adalah simbol perlawanan terhadap Israel dan memiliki iman yang mendalam. Qatanani bahkan rela berpisah dengan tunangannya ketika tahu bahwa tunangannya tersebut tidak menyukai Nasrallah. Baginya, yang harus menjadi petunjuk arah adalah Palestina. Jika memang membela Palestina, maka Anda harus membuang segala bentuk faksionalisme, sekterianisme, rasisme dan fokus pada perlawanan.

Kekaguman pada Nasrallah ia warisi dari ayahnya, Syaikh Taha Al Qatanani, yang meyakini bahwa Nasrallah adalah sosok yang tulus melakukan perlawanan, pengorbanan, dan jujur.

“Nasrallah adalah janji yang benar. Kami mengikuti pidatonya bersama-sama. Beberapa hari sebelum kesyahidannya, Sayyid Nasrallah menyampaikan pidato. Tapi saya sedang sakit dan tidur lebih awal. Qatanani pun membangunkan saya agar bisa mendengarkan pidato,” tutur Syaikh Taha, (Al Manar, 27 Januari 2016).

Ketika Qatanani syahid, Sayyid Hasan Nasrallah menelepon Syaikh Taha, dan menyebut bahwa putrinya akan bersama-sama dengan syuhada Samir Quntar, syuhada asal Palestina yang juga syahid oleh serangan Israel di Damaskus, Suriah.

“Setiap hari orang datang menemuiku untuk mengucapkan selamat (karena menjadi syuhada adalah kebahagiaan-red), dan puncaknya adalah ketika Sayyid Nasrallah menelepon. Rasanya, bagaikan seluruh alam semesta menelepon saya ketika mendapatkan ucapan selamat darinya. Tetapi saya tidak menyangkal adanya serangan sengit yang ditujukan kepada saya, begitu pula terhadap beliau karena telepon tersebut.”

“Jujur, kami tidak mungkin bisa membebaskan kembali setiap jengkal tanah Palestina. Tetapi Intifada ini akan membawa masalah Palestina dan Al Quds kembali ke permukaan. Intifada ini juga akan mengungkapkan kemunafikan para penipu yang telah menghancurkan negara-negara atas nama Islam dan Arabisme. Saya orang yang realistis. Sampai hari ini, Intifada Palestina bak anak yatim. Tidak ada yang mau mengadopsi/ menolongnya. Faksi-faksi berada dalam titik lamban, mirip seperti pemain cadangan atau para penonton sepakbola yang hanya memberikan semangat kepada pemain di lapangan untuk mencetak gol,” kecam Syaikh Taha.

Benar, Saudi rela merogoh kocek dalam-dalam untuk berperang dan membantai rakyat Yaman. Tetapi pernahkah mereka mengirimkan satu butir peluru untuk rakyat Palestina untuk melawan Zionis Israel? Uni Emirat Arab, mengirim tentara bayaran untuk memerangi rakyat Yaman, tetapi pernahkah rezim monarkhi ini mengirim tentara bayaran untuk membantu rakyat Palestina melawan Israel? (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL