iran nuclear talkWina, LiputanIslam.com — Pembicaraan nuklir Iran dimulai lagi di tengah-tengah perbedaan signifikan yang harus diselesaikan dalam waktu seminggu.

Tiba di Wina, Minggu (13/7), Menlu AS John Kerry langsung menyatakan pandangannya yang mencerminkan prospek pembicaraan yang akan berlangsung sulit.

“Masih ada perbedaan-perbedaan signifikan,” kata Kerry, yang juga dinyatakan oleh delegasi Perancis dan Inggris.

AS, Inggris dan Perancis bersama Rusia, Cina dan Jerman di satu pihak (P5+1 atau Sextet), bertemu dengan delegasi Iran di pihak lain dalam perundingan ini. Pihak pertama dipimpin oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton sedang pihak Iran dipimpin Menlu Mohammad Javad Zarif.

Kecuali Rusia dan Cina, semua negara tersebut di atas mengirimkan pejabat menteri luar negerinya, menunjukkan bahwa pembicaraan ini adalah sesuatu yang sangat penting.

Di sisi lain, delegasi Iran juga menyatakan hal yang sama, dengan mengungkapkan bahwa masih tidak jelas apakah perbedaan-perbedaan besar bisa diselesaikan.

Tujuan pembicaraan putaran kali ini adalah membujuk Iran untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi-sanksi.

Pembicaraan awal yang berlangsung hari Minggu (13/7) kemarin masih belum menunjukkan perubahan apapun.

“Kami belum membuat jalan pintas yang berarti,” kata Menlu Inggris William Hague, sebagaimana dilaporkan BBC.

“Ada perbedaan-perbedaan yang sangat signifikan,” tambahnya.

Para pengamat meyakini bahwa sampai tanggal yang ditetapkan 20 Juli nanti belum akan ada jalan pintas, sehingga diperlukan waktu tambahan.

Dalam pertemuan akhir tahun lalu terjadi kesepakatan sementara. Namun pihak-pihak yang terlibat gagal menetapkan kesepakatan jangka panjang tentang pembatasan pengayaan uranium dan produksi plutonium yang dapat menghasilkan material pembuat senjata nuklir.

Negara-negara barat selama ini mencurigai Iran tengah berusaha secara diam-diam membuat senjata nuklir, meski dengan tegas hal itu dibantah Iran dengan menyebutkan bahwa program nuklirnya adalah untuk keperluan damai. Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bahkan pernah mengeluarkan fatwa bahwa senjata nuklir adalah haram.

Minggu lalu Ayatollah Ali Khamenei mengatakan bahwa Iran kemungkinan akan membutuhkan ribuan mesin pengaya uranium tambahan. Dalam 5 tahun, katanya, Iran akan membutuhkan jauh lebih banyak dari 10.000 mesin pengaya uranium sebagaimana diminta negara-negara barat.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL