SITI-BAGJA-MUAWANAHSerang, LiputanIslam.com — Berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, tak menghalagi Siti Bagja untuk lulus dengan predikat cum laude. Selasa, 19 Agustus 2014, Siti berhasil menyelesaikan studinya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Menurut Arip Senjaya, dosen pembimbing Siti dalam skripsinya, Siti merupakan mahasiswi pemberontak dalam arti positif, mahasiswi yang selalu menggugat dan ‘menyulitkan’ dosen.

“Saya kira begitulah seharusnya seorang mahasiswi, bersikap kritis dan tidak menelan mentah-mentah apa yang disampaikan dosen,” ungkapnya, seperti dilansir Bantenhits, 20 Agustus 2014.

Sementara itu,  menurut Firman Venayaksa, salah seorang dosen di Untirta Serang, Siti merupakan mahasiswi yang tidak pernah terlihat di kampus selain saat kegiatan belajar mengajar. “Nilainya bagus-bagus, (dia juga) aktif berdiskusi. Namun setelah selesai di kelas, ia seakan-akan raib dari hiruk pikuk mahasiswa. Setelah saya telusuri, barulah saya tahu bahwa ia harus segera pulang karena ia memiliki predikat sebagai pembantu rumah tangga,” ungkap Firman.

Firman menuturkan, Bagja berasal dari kampung Kuluk Leugeut, Ciomas. Ibunya meninggal ketika melahirkan anak ke-7, ketika Bagja menginjak semester empat. Bapaknya bernama Jamsuni (51 tahun) hanya tukang bersih-bersih di sekolah.

Ketika ibunya meninggal, Bagja benar-benar terpukul. Apa lagi melihat saudara-saudaranya yang juga harus sekolah. Namun di sisi lain, ia tak bisa berdiam diri. Demi melanjutkan hidupnya dan kehendak yang begitu besar ingin menyelesaikan kuliahnya, ia memutuskan untuk menjadi pembantu Rumah Tangga di kota Serang. Keputusannya diambil untuk memangkas jarak dengan kampus. Jika ia bolak balik ke dari kampus ke kampungnya bisa menghabiskan 34 ribu rupiah per hari.

“Bagja bertemu keluarga H. Uci Sanusi di komplek Ciceri Indah yang mau menampungnya. Perjanjianpun dibuat. Bagja siap untuk menjadi PRT di sela-sela waktu senggangnya berkuliah. Yang penting ia punya kamar untuk tidur dan makan,” ungkap Firman.

Bagja tak meminta gaji dari pemilik rumah. Ia hanya diberi ongkos angkot 20 ribu/ minggu dan tidak pernah meminta jika sang pemilik rumah terlambat atau bahkan tidak memberinya ongkos. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL