Tehran, LiputanIslam.com–Kebijakan Presiden AS Donald Trump dalam melarang masuknya imigran dari 7 negara bermayoritas Muslim (Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman) telah memancing kecaman dari internasional. Iran menyatakan, langkah AS tersebut adalah hadiah teristimewa untuk para teroris.

Massoud Shadjareh, kepala Islamic Human Rights Commission, mengatakan pelarangan tersebut jelas-jelas merupakan langkah penghancuran terhadap Muslim. Ia menilai, ‘muslim ban’ lebih bertujuan untuk menenangkan Israel dan kelompok-kelompok teroris dibandingkan untuk melawan terorisme.

“Saya harus menegaskan bahwa kebijakan ini tidak berhubungan dengan pencegahan terorisme, tapi untuk menciptakan kehancuran di kawasan Muslim dan pastinya memobilisasi lingkungan kebencian,” kata Shadjareh kepada Press TV, Minggu (29/01/2017).

Sang aktivis menilai, sangat aneh melihat Iran menjadi salah satu negara dalam pelarangan tersebut, karena Iran telah lama melawan terorisme sendirian, dan  adalah negara yang paling besar perannya dalam memerangi ISIS daripada negara lain.

Shadjareh menegaskan, tidak ada alasan untuk melarang ketujuh negara tersebut karena semuanya tidak pernah terlibat dalam aksi terorisme di Amerika Serikat.

Pemerintah Trump secara jelas memperlihatkan bahwa mereka tidak berpihak kepada “Iran, Muslim, dan keadilan”, sebut Shadjareh, sebab mereka bahkan tidak memperlihatkan upaya menciptakan lingkungan di mana para teroris Takfiri dapat diperangi secara kolektif.

Sadjareh menutup wawancara dengan mengatakan bahwa komunitas internasional harus bangun dan melawan pelarangan ini, dan mencegah legitimasi “perlakuan fasis” oleh Amerika Serikat. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL