Pakistan-03819Lahore, LiputanIslam.com — Lima orang anggota keluarga yang telah merajam seorang wanita hamil hingga tewas di depan Pengadilan Tinggi Lahore hari Selasa (27/5) lalu, telah ditangkap dan bakal menghadapi pengadilan terorisme. Demikian keterangan pihak berwenang Pakistan, Sabtu (31/5).

Farzana Parveen (25 tahun), dirajam hingga tewas oleh keluarganya sendiri karena menikah dengan orang yang tidak direstui keluarganya. Menyusul aksi itu polisi pun telah menangkap ayah, paman, 2 sepupu dan seorang pengemudi yang membawa keluarga tersebut ke Lahore, demikian keterangan Zulfikar Hameed, ketua tim penyidik kasus ini kepada CNN.

Pengadilan kini mengancam kelima tersangka tersebut dengan dakwaan terorisme “yang mengancam keselamatan dan keamanan masyarakat”, demikian keterangan Maliha Zia, pengacara bagi kelompok pembela hak-hak wanita Aurat Foundation.

Meski demikian Zia berharap, pengadilan tetap bisa bersikap fair atas kasus yang telah mendapat sorotan publik internasional ini.

“Saya harap kualitas pengadilan ini tidak berkurang, meski telah dipercepat prosesnya. Penyidikan dan pengadilan tidak berkurang kualitasnya karena masa kerja yang dipercepat. Yang saya harapkan adalah kualitas pengadilan yang lebih baik,” katanya.

Selain itu kepolisian juga menjadi pihak yang disidik atas kasus ini karena dianggap turut berperan dalam aksi keji terhadap Farzana dengan tidak melakukan tindakan pencegahan.

Perdana Menteri Nawaz Sharif pada hari Jumat (30/5) mengecam aksi keji tersebut sebagai “sama sekali tidak bisa diterima” dan “sangat memalukan” karena terjadi di hadapan aparat kepolisian.

Menurut keterangan polisi, sekitar 20 orang terlibat dalam aksi perajaman terhadap Farzana. Para pelaku lainnya kini dalam pengejaran polisi.

Komisi HAM Pakistan menyebutkan terdapat 869 kasus pembunuhan semacam itu di Pakistan tahun lalu. Penduduk menyebutnya sebagai “pembunuhan demi martabat”, atau pembunuhan untuk membela martabat keluarga yang biasanya terjadi ketika seorang wanita menikah dengan laki-laki yang tidak direstui keluarganya. Pembunuhan lain dengan motif tersebut termasuk perbuatan zinah, atau bertingkah laku tidak senonoh.

Perlakuan yang tidak adil terhadap wanita di Pakistan semakin kentara setelah terbukti bahwa suami Farzana, lelaki yang ia cintai hingga mengorbankan nyawanya itu, ternyata telah membunuh istri pertamanya.

“Saya ingin menikahi Farzana, jadi saya bunuh istri pertama saya,” kata suami Farzana Muhammad Iqbal dalam wawancara dengan CNN sehari setelah pembunuhan Farzana.(ca/cnn)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL