Civil conflict in the CARLiputanIslam.com — “Saya tidak akan mengenakan pakaian Muslim, saya tidak akan pergi ke masjid, dan saya akan berpura-pura sebagai orang Kristen,” kata Henriette Oumpo (60 tahun), seorang wanita muslim Afrika Tengah sebagaimana dikutip Washington Post dan diposting oleh situs berita Turki Zaman tgl 24 Maret lalu.

Oumpo pun menceritakan awal mula petaka yang dialaminya itu.

“Suatu malam, mereka (milisi Kristen anti-Balaka) mendobrak pintu rumah dan mencari suami saya. Setelah tidak menemukannya, mereka pun mulai menjarah seisi rumah saya dan akhirnya bermaksud membunuh saya,” kata Oumpo, wanita yang lahir dari keluarga Kristen dan berpindah agama setelah menikah dengan suaminya, Idriss Alaas Muhamed.

Namun nyawa Oumpo bisa diselamatkan setelah para tetangganya memberitahu para milisi Kristen itu bahwa Oumpu berasal dari keluarga Kristen. Para milisi pun membiarkan nyawanya, namun dengan syarat.

“Tinggalkan Islam, atau kami akan kembali dan membunuhmu karena kawin dengan orang Islam,” kata para anggota milisi itu.

Perkawinan antara penganut Islam dan Kristen berhasil meredam konflik sentarian di Republik Afrika Tengah sejak merdeka tahun 1960 dari kekuasan kolonialisme Perancis. Namun konflik sektarian yang kini melanda negara itu telah menghancurkan persatuan para penganut Islam dan Kristen, memisahkan keluarga-keluarga dan memecah belah masyarakat. Para pejabat PBB dan pekerja sosial bahkan mengkhawatirkan, ekses dari kerusuhan akan menghancurkan hubungan kedua penganut agama samawi itu untuk selamanya.

“Mereka akan mendapat banyak tekanan dari kedua pihak: ‘itu bukan orang-orang yang boleh dinikahi’, “itu bukan orang-orang yang boleh ditemani’,” kata Abdou Dieng, pejabat kemanusiaan PBB di Republik Afrika Tengah

“Banyak keluarga yang tercerai berai,” tambahnya.

Kini suami Oumpo hidup terpisah di kawasan yang disebut PK5, bekas kompleks pertokoan dan perumahan yang sudah hancur dijarah. Itu adalah satu-satunya wilayah muslim yang tersisa oleh konflik sektarian di Bangui, ibukota Afrika Tengah. Ke-11 anak-anaknya juga sudah melarikan diri dari rumah mereka, 1 orang di antaranya tewas dikeroyok milisi Kristen saat hendak bekerja, pertengahan Januari lalu.

“Saya sudah hidup di sini selama 40 tahun, dan anak-anak saya pun lahir di sini. Saya tidak pernah berharap akan seperti ini, tidak seorang pun,” kata  Muhamed (67 tahun), yang harus tinggal di masjid yang berubah menjadi penampungan pengungsi.

Kerusuhan-kerusuhan sektarian yang telah menewaskan ribuan orang dan mengusir ratusan ribu orang dari tempat tinggalnya itu dimulai setahun yang lalu, ketika beberapa kelompok milisi muslim yang menggabungkan diri dengan nama kelompok “Seleka”, melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh presiden yang beragama Kristen, François Bozizé. Setelah berhasil merebut kekuasaan, para milisi muslim itu pun melakukan aksi-aksi pembersihan terhadap para pendukung presiden terguling.

Akibatnya orang-orang Kristen, yang merupakan mayoritas penduduk negara itu (75% berbanding 15% muslim), melawan. Mereka pun membentuk milisi sendiri bernama anti-Balaka. Mereka pun ganti melakukan aksi-aksi kekerasan sektarian terhadap orang-orang Islam. Dan meski awalnya milisi-milisi Islam unggul dalam persenjataan, karena dukungan Chad yang mayoritas berpenduduk Islam, jumlah milisi Kristen tidak bisa diimbangi oleh milisi-milisi Islam. Mereka pun berhasil menggulingkan presiden muslim hasil kudeta, Michel Djotodia, Januari lalu. Dan dengan jatuhnya Djotodia, milisi anti-Balaka pun semakin leluasa melakukan aksi-aksinya yang semakin biadab.

Ketakutan oleh aksi-aksi biadab milisi Kristen, puluhan ribu muslim pun meninggalkan negeri itu. Di Bangui sendiri kini tinggal kawasan sempit PK5 yang masih dijumpai orang Islam. Dari 8 masjid yang ada di kota itu, 7 di antaranya telah hancur menjadi arang.

Dan saat orang-orang itu pergi, ribuan keluarga pun tercerai-berai.

Di kota Kaga Bandoro di dekat perbatasan Chad di utara Afrika Tengah, Abdou Dieng ingat dengan pertemuannya dengan Imam Hafiz yang tengah meninggalkan negaranya menuju Chad. Ia terpaksa meninggalkan istrinya yang berasal dari keluarga Kristen bersama anak-anak mereka.

Keluarga sang Imam, tutur Dieng, telah berumur 20 tahun dengan 7 orang anak. 5 bulan yang lalu milisi-milisi Kristen menyerang rumah mereka di luar kota Bangui. Hafiz pun melarikan diri bersama 3 anak laki-lakinya, meninggalkan istrinya bersama 4 anak lainnya, untuk menjaga harta benda mereka.

Kini Hafiz dan putra-putranya tinggal di sebuah masjid, 5 mil dari rumah mereka yang dulu. Namun ia tidak bisa kembali, karena milisi Kristen menguasai desa mereka dan tidak ragu membunuhnya bila berjumpa dengannya. Ia hanya bisa mencoba menghubungi istrinya dengan telepon genggam dan membujuknya untuk pergi bersama ke Chad. Namun istrinya menolak. Chad negara Islam dengan sentimen anti-Kristen yang juga meningkat seiring kerusuhan sektarian yang terjadi di Afrika Tengah. Selain itu, di usianya yang sudah cukup tua, sang istri tidak ingin hidup tanpa tempat tinggal sendiri.

“Istri saya berkata, jika saya pergi, orang-orang milisi Kristen akan menghancurkan rumah kami. Maka saya berkata, rumah atau keluarga yang lebih berharga?” tutur Hafiz kepada Dieng.

Hafiz sadar, bagaimana pun ia harus pergi ke Chad. Masjid tempatnya tinggal bersama beberapa pengungsi lain telah berulangkali mengalami serangan oleh milisi Kristen. Seorang anak yang menjadi pengungsi di sana, belum lama berselang bahkan tewas dibunuh para milisi.

“Saya masih bersekolah ketika saya menikah. Saya mengunjungi keluarganya. Istri saya pun mengunjungi keluarga saya. Ia disambut di keluarga saya dan saya pun disambut hangat di keluarganya. Kristen dan Islam hidup damai. Namun semua itu kini telah pergi,” kata Hafiz.

Di kebanyakan negara dan terlebih di Afrika, identitas kesukuan lebih kuat dibandingkan identitas agama. Orang-orang muslim maupun Kristen ditemukan di semua suku. Perkawinan lintas-agama pun terjadi secara alamiah, karena bagi seorang muslim laki-laki hal itu pun diperbolehkan oleh agamanya. Sebagian wanita Kristen tetap mempertahankan agamanya setelah menikahi laki-laki muslim.

Namun semua itu kini telah lenyap, identitas agama kini mengalahkan identitas kesukuan.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL