Washington, LiputanIslam.com—Seorang mantan pejabat Kementerian Hubungan Politik mengkritik Presiden AS Donald Trump atas kebijakannya yang keras dan tanpa perhitungan kepada Iran terkait perjanjian nuklir.

Dalam wawancara dengan Yahoo News pada Minggu (29/7/18), Wendy Sherman menilai bahwa Trump tidak mengerti budaya resistensi Iran, di mana Republik Islam itu bukanlah negara yang dengan mudah menyerah dengan ancaman apapun.

Presiden AS ke-45 itu pada Mei lalu mengumumkan bahwa negaranya keluar dari perjanjian nuklir Iran, dan berencana mengembalikan sanksi ekonomi “level tertinggi” kepada Iran.

Sherman, pernah menjadi anggota utama dalam tim negoisasi nuklir AS di bawah mantan menlu John Kerry, mengkritik gaya diplomasi Presiden Trump yang “memukul lawan dengan ancaman, dan setelah itu memaksa mereka duduk untuk bicara dan mengesahkan sebuah perjanjian.”

“Apa yang tidak ia mengerti adalah bahwa Iran memiliki budaya resistensi yang tidak mudah menyerah kepada ancaman publik semacam itu, dan mereka tidak akan menyerah,” paparnya.

Baru-baru ini, Trump kembali menyerang Iran dengan retorika keras. Ia mengancam Republik Islam dengan penderitaan “seperti yang dirasakan beberapa [negara] sepanjang sejarah”. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*