Washington, LiputanIslam.com—Sejumlah anggota Kongres AS menandatangani surat yang berisi permintaan kepada Jaksa Agung Jeff Sessions apakah ia dan Departemen Kehakiman bisa melakukan kriminalisasi terhadap aktivis lingkungan yang memprotes pipa minyak.

Dalam surat itu, disebutkan pertanyaan kepada Sessions apakah undang-undang USA PATRIOT Act and Pipeline Safety Act mengandung aturan untuk menuntut para aktivis lingkungan sebagai teroris.

Apakah serangan ke infrastruktur energi negara, yang menyebabkan ancaman ke kehidupan manusia, dan intimidasi perubahan kebijakan, dapat dilihat oleh Departemen Kehakiman sebagai [terorisme]?” tulis mereka dalam surat itu.

Salah satu pejabat Kongres dari Colorado yang menulis surat itu, Ken Buck, diketahui pernah menerima duit sekitar $400.000 dari perusahaan minyak dan gas selama karir politiknya. Sedangkan pejabat lain dari Texas, Henry Cuellar,  juga pernah mendapat hampir $600.000.

Mereka semua mengkritik tindakan para aktivis yang mencoba menutup aktivitas pembangunan pipa minyak dan gas.

Meskipun beberapa aktivis mengaku sabotase yang mereka lakukan bertujuan untuk membuka kesadaran publik tentang perubahan iklim, mereka sebenarnya hanya menimbulkan kerusakan serius terhadap lingkungan…” klaim mereka.

Menurut laporan dari OpenSecrets.org, Jaksa Agung Jeff  Sessions juga ternyata berteman baik dengan perusahaan-perusahaan tersebut karena “hampir $400,000 uang kontribusi dalam kampanyenya berasal dari industri minyak dan gas…”

Sessions bahkan menyebut zat karbon yang dihasilkan industri minyak dan gas “tidak begitu polutan.”

“Polusi Karbon itu CO2, dan itu sebenarnya tidak begitu polutan. Itu adalah makanan tumbuhan, dan tidak begitu merusak [lingkungan] kecuali mungkin menyebabkan kenaikan suhu,” kata  Sessions.

Pada tanggal 11 Oktober 2016, lima aktivis Amerika mengaku telah menutup lima pipa minyak di AS yang menyalurkan minyak dari Alberta, Kanada. Aksi itu dilakukan sebagai solidaritas terhadap suku pribumi yang tinggal di kawasan, seperti dalam kasus proyek Dakota Access Pipeline oleh perusahaan Energy Transfer Partners. Salah satu anggota suku Standing Rock Sioux, Iron Eyes, langsung ditangkap dengan dakwaan “memicu kerusuhan”.

“Melihat ancaman pipa minyak Dakota atas suplai air suku dan keluarga saya, saya tidak punya pilihan lain selain melawan di garis terdepan,”  kata Iron Eyes. “Pipa minyak itu terlalu sering bocor, dan upaya kami untuk menghentikan konstruksi [perusahaan] selalu diintervensi oleh Presiden Trump…”

Perusahaan Energy Transfer Partners diketahui memberi label aktivis lingkungan yang menghalangi Dakota Access Pipeline sebagai teroris. Mereka juga telah menuntut organisasi lingkungan seperti Greenpeace, Bank Track, Earth First!, dan lainnya. (ra/mintpress)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL