LiputanIslam.com—Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan tindakan kekerasan dan vandalisme yang dilakukan oleh pemukim Israel terhadap Palestina dan harta mereka telah meningkat sejak awal tahun 2019.

Kantor berita Palestina, mengutip sebuah laporan yang dilansir oleh Kantor PBB  untuk Urusan Kemanusiaan (OCHA), mengumumkan berita tersebut pada hari Sabtu (16/2).

Laporan dua mingguan OCHA, yang dimulai dari 29 Januari hingga 11 Februari tahun ini, menunjukkan bahwa warga Palestina telah mengalami tujuh kali serangan yang mengakibatkan cedera atau kerusakan. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sebelumnya pada 2018 yang hanya lima kali dan pada 2017 hanya tiga kali.

Dua remaja Palestina, berusia 14 dan 17 tahun, terbunuh pada 8 Februari oleh tembakan langsung tentara Israel selama aksi unjuk rasa “Great March of Return” di Jalur Gaza yang terkepung, kata laporan itu, menambahkan pada hari yang sama, dua warga Palestina juga mengalami luka-luka yang mereka terima dalam protes serupa pada periode pelaporan sebelumnya.

OCHA mengatakan, pada periode ini empat orang Palestina terbunuh selama aksi protes dan menambah jumlah korban aksi menjadi 263 orang, termasuk 49 anak di bawah umur.

“Sekitar 425 pohon dan 14 kendaraan dirusak, serta satu warga Palestina terluka, dalam serangan oleh pemukim Israel selama periode perekaman,” kata badan PBB itu.

Orang Palestina yang terluka itu adalah seorang pria berusia 20 tahun, yang secara fisik diserang oleh para pemukim Israel di dekat desa Jibiya di distrik Ramallah di Tepi Barat pusat, jelasnya.

Laporan itu mengatakan 425 pohon milik Palestina telah dirusak oleh pemukim Israel dalam tiga insiden terpisah di al-Khalil (Hebron) yang terletak di Tepi Barat Selatan, dan di Desa Jalud di Nablus, yang terletak di Tepi Barat Utara.

Secara terpisah, pemukim Israel menusuk ban dari 14 kendaraan milik Palestina, menggambar grafiti berbau rasis  di desa al-Lubban al-Sharqiya dan Huwwara, selatan Nablus, dan di al-Khalayleh, dekat distrik Yerusalem al-Quds. Laporan lebih lanjut menambahkan bahwa pemukim Israel juga berusaha untuk membakar masjid lokal di Desa Deir Dibwan di Ramallah selama periode tersebut.

“Pencabutan pohon oleh tentara Israel dan perusakan properti terjadi terutama di Lembah Jordan utara di mana sekitar 500 pohon tumbang, empat petak tanah yang diratakan, serta jaringan irigasi rusak pada 6 Februari di desa Bardala yang mempengaruhi mata pencaharian tujuh keluarga,” kata laporan itu.

Selama periode pelaporan sebelumnya, pada 22 Januari, otoritas militer Israel mencabut 1.250 pohon milik Palestina di Desa Safa dekat al-Khalil.

Badan PBB itu juga mengatakan bahwa selama periode pelaporan, 15 bangunan Palestina dihancurkan atau disita di Yerusalem Timur al-Quds dan Area C di Tepi Barat yang diduduki, dengan dalih kurangnya izin bangunan, menggusur 39 warga Palestina dan memengaruhi mata pencaharian sekitar 70 warga Palestina.

Kembali pada bulan Oktober, pemukim Israel merajam seorang wanita Palestina sampai mati di dekat pos pemeriksaan Tepi Barat di selatan Nablus.

Insiden itu terjadi dua hari setelah sekelompok pemukim Israel dari pemukiman Yitzhar masuk ke sebuah sekolah menengah di Desa Urif, yang terletak di selatan Nablus dan mulai melempar batu ke arah siswa yang ketakutan di dalam ruang kelas mereka.

Lusinan siswa terluka selama serangan itu, yang juga menyebabkan gangguan kelas dan kerusakan materi.

Sekitar 600.000 warga Israel tinggal di lebih dari 230 permukiman ilegal yang dibangun sejak pendudukan Israel tahun 1967 di wilayah Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur al-Quds.

Palestina menginginkan Tepi Barat sebagai bagian dari negara Palestina merdeka di masa depan dengan Yerusalem Timur al-Quds sebagai ibukotanya.

Ekspansi pemukiman di wilayah Palestina telah menjadi titik utama dalam pembicaraan Israel-Palestina, yang terhenti sejak 2014.(fd/PNN)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*