unwraGaza, LiputanIslam.com — Badan Bantuan dan Pekerja PBB, UN Relief and Works Agency (UNRWA), memotong anggaran bantuan untuk pengungsi Palestina. Keputusan tersebut memicu protes ratusan warga Palestina.

Aljazeera melaporkan, ratusan warga Palestina berdemonstrasi menentang pemotongan program bantuan makanan PBB untuk mereka. Pemimpin protes mengatakan, mereka akan meningkatkan upaya untuk mengembalikan bantuan makanan ke warga Palestina.

Para pengunjuk rasa berkumpul di luar kantor UNRWA di Gaza, Palestina, pada Ahad (16/3). Mereka memukul-mukul panci, wajan, dan membawa spanduk yang menyerukan penentangan terhadap pemotongan.

UNRWA selama ini menyediakan makanan, pendidikan dan layanan dasar lain bagi para pengungsi Palestina di wilayah yang diduduki. Mereka juga memberi bantuan di kamp-kamp pengungsi Palestina di Suriah, Lebanon dan Yordania.

Perwakilan komite pengungsi di Jalur Gaza tengah Shukri al-Arouqi mengatakan, dalam beberapa bulan terakhir, UNRWA telah mengurangi jumlah keluarga yang menerima bantuan pangan mendesak di Gaza. Tak tanggung-tanggung, UNRWA mengurangi hingga 65 persen dari jumlah keluarga.

Para demonstran juga menyatakan kemarahannya atas survei baru yang dilakukan UNRWA terkait kemiskinan yang melanda pengungsi. Ini berkaitan dengan status penerima bantuan pangan dan memutuskan, apakah akan tetap mempertahankan atau menghapus mereka dari daftar penerima.

“Anggaran untuk program survei sekitar 16 miliar dolar per tahun. Mengapa mereka tidak menggunakan uang itu untuk kupon (makan) bukan?” kata al-Arouqi.

Saat ini lebih dari 800 ribu warga Palestina di Gaza menerima bantuan makanan dari UNRWA. Termasuk bantuan seperti tepung, beras, gula, minyak bunga mataharia dan barang lainnya. Menurut survei UNRWA 2012, 57 persen rumah tangga di Gaza atau sekitar 1,04 juta warga dianggap mengalami rawan pangan.

Juru bicara UNRWA Adnan Abu Hassna mengatakan, 34 ribu keluarga telah dihapus dari daftar program pangan. Pemotongan diterapkan untuk mencapai keadilan dalam distribusi.

“Dalam dua bulan mendatang kami akan menambahkan lebih banyak keluarga ke daftar penerima bantuan. sebab pekerja terowongan, pekerja konstruksi dan pekerja di lebih banyak sektor kehilangan pekerjaan mereka,” kata Abu Hassna.

Ia mengacu pada penutupan terowongan penyelundupan antara Gaza dan Mesir. UNRWA menghadapi defisit pendanaan sebesar 65 miliar tahun ini. Organisasi ini menyatakan, membutuhkan lebih dari 300 juta dolar untuk menjalankan semua program bantuan.

Tahun lalu, UNRWA memotong bantuan darurat untuk sekitar 11 ribu keluarga di Jalur Gaza. Hingga saat ini UNRWA telah mendaftar sekitar 1,2 juta warga Palestina di Gaza sebagai pengungsi.(ca/republika.co.id)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL