New York, LiputanIslam.com–Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat untuk mendiskusikan situasi di perbatasan Jalur Gaza, sehari setelah tentara Israel membunuh hampir 60 warga Palestina melukai 2.700 lainnya.

Pertemuan ini dimulai dengan momen hening bagi warga Palestina yang meninggal dunia di hari paling berdarah sejak perang Israel pada 2014 silam.

Dari pihak sekutu AS maupun yang anti, mayoritas negara anggota PBB tidak menyetujui langkah pemindahan kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Hampir semua duta negara menyatakan bahwa Israel bertanggungjawab untuk melakukan respon yang proporsional, dan tidak menggunakan peluru hidup kepada warga sipil Palestina.

Wakil Swedia, Olof Skoog, mengatakan bahwa Israel harus menahan diri dari penggunaan kekuatan militer yang mematikan.

Francois Delattre, duta besar Prancis, menilai bahwa kekerasan Isarel mengancam perdamaian di Timur Tengah. Menurutnya, “situasi di Timur Tengah sudah mendekati badai yang sempurna,”

Duta besar Inggris, Karen Pierce, menyuarakan dukungan untuk investigasi atas kekerasan pada Senin lalu. Ia juga menyatakan bahwa status Yerusalem “harus ditentukan dalam negosiasi antara Israel dan Palestina, dan Yerusalem pada akhirnya harus menjadi ibukota bersama negara Israel dan Palestina.”

Sedangkan menurut wakil Bolivia, Sasha Llorenty, keputsan sepihak AS untuk memindahkan kedubes ke Yerusalem “hanya menimbulkan kobaran api.”

“AS, yang mendukung kekuatan penjajah, telah menjadi hambatan atas perdamaian. [AS] telah menjadi bagian dari masalah, bukan solusi,” tegasnya.

Duta dari China, Swedia, dan Belanda juga menegaskan bahwa status Yerusalem harus diserahkan dengan negosiasi.

Sementara itu, seperti yang telah diduga, duta AS untuk PBB, Nikki Haley, membela penggunaan kekerasan Israel kepada demonstran tak bersenjata Palestina.

Ia mengatakan, militer Tel Aviv sudah menahan diri dalam merespon para demonstran di perbatasan Gaza. Dia juga menolak tuduhan bahwa peristiwa berdarah yang terjadi disebabkan oleh upacara pembukaan kedubes AS.

“Tidak ada negara di ruangan ini yang bisa bertindak lebih menahan diri dari yang dilakukan Israel,” kata Haley.

“Faktanya, catatan dari sejumlah negara di sini memperlihatkan bahwa mereka lebih tidak bisa menahan diri [daripada Israel],” imbuhnya. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*