Tepi Barat, LiputanIslam.com–PBB memperingatkan bahwa sejak awal 2018, terjadi kenaikan jumlah kasus kejahatan dan vandalisme oleh penduduk Israel terhadap warga Palestina dan properti mereka.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada hari Minggu (9/12) mengeluarkan laporan Perlindungan Sipil yang berisi perbandingan jumlah rata-rata serangan oleh penduduk Israel pertahun. Pada tahun 2018, terjadi rata-rata lima serangan perminggu, dibandingkan 3 kasus perminggu pada tahun 2017 dan 2 pada tahun 2016.

Laporan ini menyebut rezim Israel telah menghancurkan atau menyita 33 bangunan milik orang Palestina di Area C,  kawasan pendudukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur al-Quds. Salah satu bangunan yang dihancurkan adalah bangunan yang digunakan sebagai tempat pemberian bantuan kemanusiaan, dengan dalih bangunan tersebut tidak punya izin.

Penghancuran dan penyitaan kontroversial ini telah menyebabkan 16 warga Palestina terlantar, termasuk 6 anak-anak, dan mempengaruhi kehidupan 226 orang lainnya.

OCHA menambahkan, terdapat sekitar 85 pohon milik warga Palestina, sebagian besar pohon zaitun, uang dirusak oleh oknum pemukim Israel di desa Turmusayya, dekat kota Ramallah.

Dalam lima insiden lain di berbagai daerah di Tepi Barat, pemukim Israel menusuk ban 52 kendaraan milik warga Palestina, menulis slogan rasis anti-Arab dengan cat semprot di badan kendaraan dan di dinding sekolah, masjid, dan rumah.

Pada bulan Oktober lalu, sejumlah pemukim Israel melempari seorang perempuan Palestina di dekat pos pemeriksaan Tepi Barat.

Dua hari sebelumnya, sekelompok penduduk Israel dari pemukiman Yitzhar menerobos masuk ke sebuah SMA di desa Urif, Nablus selatan, dan melemparkan batu ke dalam kelas ketika jam belajar. Puluhan siswa terluka akibat serangan ini, dan terjadi kerusakan material yang merugikan. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*