Hudaidah, LiputanIslam. Com—Berdasarkan atas laporan PBB , kasus kolera yang kini melanda Yaman mengalami penaikan drastis dari 380.000 kasus pada 2018, menjadi 460.000 kasus pada 2019.

Wakil jubir PBB,  Farhan Haq,  menuturkan pada Senin (8/7) kemarin bahwa angka kematian akibat kolera di negara itu terhitung sejak Januari lalu telah mencapai 705 jiwa. Dibandingkan tahun kemarin, dengan penghitungan yang sama,   jumlahnya hanya mencapai 75 jiwa.

Menurut Farhan,  tersebarnya penyakit kolera dengan kecepatan tinggi di negara itu disebabkan oleh banjir bandang,  buruknya sistem pengelolaan limbah,  serta kurangnya akses air bersih untuk minum dan irigasi.

Sampai saat ini,  lanjut Farhan,  fasilitas kesehatan yang dioperasikan oleh PBB bersama mitranya untuk penyakit kolera di seluruh Yaman berjumlah 1.200. Namun,  tetap saja pengobatan mengalami kendala akibat minimnya dana.

Total bantuan kemanusiaan yang dianggarkan PBB untuk 20 juta warga Yaman mencapai $4.2 milyar.  Namun,  baru 32% yang dapat terealisasikan.

Baca: Wabah Kolera di Yaman Terburuk Sepanjang Sejarah

Penyakit kolera merupakan penyakit yang disebabkan oleh makanan atau air yang telah terkontaminasi.  Penyakit ini menjelma dalam bentuk diare akut yang jika tidak diatasi dengan baik,  akan menyebabkan penderitanya mengalami kematian.

Arab Saudi dan sejumlah sekutunya menyerbu Yaman pada Maret 2015 dengan tujuan membawa bekas rezim, Abd Rabbuh Mansur Hadi, kembali berkuasa.

Perang pimpinan Saudi yang sedang berlangsung di Yaman telah menghancurkan banyak infrastruktur di negara itu, termasuk di sektor kesehatan.

PBB mengatakan lebih dari 24 juta orang Yaman sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk 10 juta orang menderita kelaparan tingkat tinggi, sebagai akibat dari perang.

Wabah kolera juga dimulai setelah perang diluncurkan.(fd/Presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*