Dhaka, LiputanIslam.com—Badan pengungsi PBB UNHCR pada Kamis (7/12/17) melaporkan bahwa masih ada warga Muslim Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar dan memasuki wilayah Bangladesh.

Menurut penemuan UNHCR, terdapat 30.000 pengungsi yang mencapai Bangladesh pada bulan lalu, dan sekitar 1.500 lagi pada minggu lalu.

“Darurat pengungsi di Bangladesh adalah krisis pengungsi dengan pertumbuhan paling cepat di dunia,” kata wakil komisioner tinggi UNHCR, Kelly Clements, di ibukota Bangladesh, Dhaka.

“Kondisi di Rakhaine state, Myanmar, tidak aman untuk dipulangi… pengungsi masih melarikan diri,” tambahnya.

“Kebanyakan pengungsi sudah tidak punya rumah. Rumah dan desa mereka sudah dihancurkan. Perpecahan antara masyarakat belum tertangani dan akses manusia tidak memadai.” imbunhnya.

Pada tanggal 23 November lalu, Bangladesh membuat perjanjian dengan Myanmar untuk memulangkan pengungsi Muslim Rohingya dalam dua bulan ke delan. Perjanjian antara dua negara tetangga itu ditandatangani setelah dua minggu negoisasi.

Menghadapi kecaman internasional dan tuduhan tindakan pembersihan etnis Rohingya, pemerintah Myanmar pada awal November ini mengaku sudah siap melakukan proses pemulangan. Pemimpin de facto Muanmar, Aung San Suu Kyi, mengatakan bahwa orang Rohingya yang bisa membuktikan diri sebagai warga Myanmar, akan diterima kembali ke negara itu.

Meskipun begitu, masih belum jelas langkah spesifik apa yang akan dilakukan pemerintah Myanmar untuk melindungi warga Rohingya dari ancaman kematian, penyiksaan, dan pemerkosaan oleh militer dan kelompok Buddha.

Warga Muslim Rohingya mulai melarikan diri dari Rakhine pada Oktober 2017 setelah adanya serangan dari militer dan kelompok Budha. Pemerintah Myanmar menolak memberikan status kewarganegaraan penuh bagi mereka, dan menyebut mereka imigran ilegal dari Bangladesh. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL