CrimeaKiev, LiputanIslam.com — Tembak-menembak pecah di kota Slavyansk, Ukraina timur, Minggu (13/4), ketika pasukan yang dikirim rezim Ukrina di Kiev berusaha merebut kembali kota tersebut dari para demonstran bersenjata yang kini menduduki gedung-gedung pemerintahan.

Tembak-menembak tersebut pecah di sebuah pos penjagaan yang didirikan demonstran di luar kota, Minggu pagi. Saat kejadian, helikopter-helikopter pemerintah berputar-putar di udara.

Penduduk setempat melaporkan beberapa helikopter pengangkut personil mendarat di sebuah landasan tua yang terletak 5 km dari pusat kota. Tidak lama kemudian pasukan berseragam hitam bergerak menuju ke kota.

Mendagri Ukraina Arsen Avakov, dalam akun Facebook miliknya menyebutkan seorang tentara Ukraina tewas dan 5 orang lainnya mengalami luka-luka. Personil yang tewas tersebut dari kesatuan Ukrainian Security Service (SBU), dan di antara yang luka-luka adalah komandan satuan anti-teror SBU.

Avakov juga menyebutkan sejumlah demonstran juga menjadi korban tembak-menembak tersebut, namun ia tidak bisa menyebutkan detilnya. Ia menuduh para demonstran menggunakan warga sipil sebagai “tameng hidup”. Laporan-laporan media setempat menyebutkan bahwa penduduk lokal berada di dalam gedung-gedung yang diduduki demonstran, namun mereka mengaku sebagai tenaga sukarela yang mendukung aksi pembangkangan.

Sementara itu di kota Donetsk yang warganya juga melakukan aksi pembangkangan dan telah mendeklarasikan kemerdekaan, otoritas kesehatan setempat menyebutkan 1 ornag tewas dalam aksi tembak-menembak di jalan raya yang menghubungkan kota Slavyansk dengan Artyomovsk, dan 5 orang lainnya mengalami luka-luka. Kemungkinan besar mereka adalah korban tembak-menembak yang disebutkan Mendagri Avakov.

Para demonstran di Slavyansk mengklaim telah menembak mati 2 orang pasukan Ukraina sekaligus mengaku seorang di rekan mereka juga tewas dan 2 orang lainnya luka-luka.

Kantor berita RIA Novosti melaporkan sebuah pos penjagaan dihancurkan pasukan dari Kiev, namun demonstran mendirikan pos pengganti di sebuah jembatan. Pada demonstran juga membakar barikade yang terbuat dari ban.

RIA melaporkan, jalan-jalan menuju ke kota Slavyansk telah diblokade oleh pasukan Ukraina sehingga bus-bus kota yang menghubungkan daerah luar kota dengan dalma kota, menghentikan operasinya.

Beredar kabar, bahwa di antara pasukan yang dikirim Ukraina terdapat milisi neo-Nazi Right Sector dan pasukan bayaran Amerika. Pada hari Sabtu pimpinan kelompok Right Sector Dimitri Yarosh, mengumumkan mobilisasi kelompoknya untuk “melakukan langkah serius mempertahankan Ukraina”.

“Rakyat bangkit melawan, memperkuat barikade,” kata penduduk Slavyansk, Miroslav

Rudenko kepada Russia Today. “Rakyat tidak mengakui pemerintahan yang duduk di Kiev,” tambahnya.

Avakov pada hari Minggu pagi mengumumkan dilakukannya “operasi anti-terorisme” di Slavyansk. Ia juga mengatakan pihaknya menerakan kebijakan “tanpa kompromi terhadap aksi-aksi terorisme”, merujuk pada aksi-aksi pembangkangan penduduk beberapa kota di Ukraina Timur yang berdekatan dengan Rusia.

Rusia sejauh ini telah mengingatkan Ukraina untuk menjauhkan aksi militer karena dikawatirkan akan memicu terjadinya perang sipil. Rusia juga mengingatkan, aksi kekerasan lebih lanjut akan menghambat pembicaraan 4 negara tentang krisis Ukraina, yang melibatkan AS, Uni Eropa, Rusia dan Ukraina.(ca/russia today)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*