russia troop in crimeaSimferopol, LiputanIslam.com — Sekelompok pasukan misterius menguasai bandara ibukota Krimea, Simferopol, Jumat (28/2). Diduga kuat mereka adalah bagian dari pasukan Rusia yang berada di pangkalan Armada Laut Hitam Rusia di Krimea.

Para saksi mata menyebutkan bahwa sekitar 50 orang bersenjata dengan seragam misterius dan mengendarai truk militer, menduduki bandara untuk mencari anggota Pasukan Terjun Payung Ukraina yang diduga berada di kompleks bandara. Namun pasukan itu pergi kembali setelah tidak ditemukan satupun anggota Pasukan Terjun Payung Ukraina di sana.

Insiden ini menyusul pengambil alihan gedung parlemen dan gedung-gedung pemerintahan Krimea oleh sekelompok pasukan bersenjata misterius pada hari Kamis (27/2). Pasukan yang terlibat dalam kedua insiden tersebut diduga adalah kelompok yang sama, demikian keterangan para saksi.

Meski tidak ada pernyataan apapun dari pasukan misterius tersebut dan juga dari otoritas Rusia, diperkirakan mereka adalah personil militer Rusia yang berada di pangkalan Armada Laut Hitam di Sevastopol, Krimea. Itu juga terlihat dari tindakan mereka menaikkan bendera Rusia di atas gedung parlemen dan kantor-kantor pemerintahan Krimea yang mereka duduki.

Apalagi peristiwa itu terjadi tidak lama setelah Rusia mengumumkan latihan militer besar-besaran yang melibatkan 150.000 pasukan, 880 tank dan 90 pesawat tempur serta 80 kapal perang di wilayah barat dan barat daya Rusia yang berbatasan dengan Ukraina.

Krimea merupakan wilayah otonomi di Ukraina yang mayoritas penduduknya beretnis dan berbahasa Rusia.

Atas kekhawatiran keterlibatan militer Rusia di Krimea itulah, pejabat presiden Ukraina yang baru terpilih sepeninggal Victor Yanukovych, Oleksandr Turchynov,  mengingatkan Rusia untuk tidak menggerakkan pasukannya keluar dari pangkalan Armada Laut Hitam. Peringatan tersebut disampaikannya hari Kamis (27/2).

Berbicara di depan sidang parlemen, Oleksandr Turchynov mengingatkan Rusia bahwa setiap pergerakan pasukan Rusia di luar pangkalan Armada Laut Hitam akan dianggap sebagai agresi militer.

Peringatan terhadap Rusia juga disampaikan oleh Menhan Amerika Chuck Hagel, hari Kamis (27/2) saat berbicara di depan pertemuan menteri pertahanan negara-negara NATO di Brussels.

“Ini adalah waktunya untuk bersikap dingin dan bijaksana, pada sisi Rusia dan juga semua sisi,” kata Hagel sembari mengingatkan Rusia untuk “menahan diri dari tindakan yang bisa disalah-artikan”.

Hagel juga menyebutkan bahwa pihaknya mengawasi dengan cermat seluruh pergerakan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina.(ca/press tv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL