iran-quds-force-550x275Baghdad, LiputanIslam.com — Iran dilaporkan telah mengirimkan pasukan elitnya untuk membantu pasukan Irak yang tengah runtuh mentalnya, menghadapi kelompok militan terafiliasi Al Qaida, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Bersama pasukan Irak, pasukan elit Iran Quds Forces telah berhasil merebut sebagian besar kota Tikrit dari ISIS, kemarin (12/6).

Sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal (WSJ) dan dikutip Irish Times hari ini (13/6), 85 persen wilayah Tikrit, tempat kelahiran diktator Irak Saddam Hussein, kini telah berhasil direbut kembali dari ISIS.

Anggota pasukan Iran mengatakan kepada WSJ bahwa sebanyak 2 batalion telah dipindahkan dari perbatasan Iran untuk melindungi 2 kota suci Shiah, Najaf dan Karbala serta memperkuat pertahanan kota Baghdad.

Inilah untuk pertama kalinya pasukan Iran berhadap-hadapan langsung dengan kelompok-kelompok militan Wahabi-takfiri setelah sebelumnya Iran lebih mengandalkan sekutunya seperti Hizbollah atau Milisi Sadr di Irak.

ISIS dan kelompok-kelompok pendukungnya, termasuk para loyalis partai Bath yang dipimpin Saddam Hussein, secara mengejutkan berhasil merebut kota terbesar kedua Irak, Mosul Senin malam lalu (9/6)  dan dengan cepat bergerak ke kota Kirkuk dan Tikrit, Samarra dan kini dikabarkan berada pada jarak hanya 80 km dari ibukota Baghdad.

Kirkuk sendiri kini telah dikuasai oleh milisi Kurdi Peshmerga, memanfaatkan tidak adanya pasukan keamanan Irak.

Meski tidak diakui Iran, pasukan elit Quds Force diyakini para pengamat dan kalangan inteligen barat telah berada di Irak sejak terjadinya invasi AS atas Irak tahun 2003. Mereka membantu kelompok-kelompok milisi Syiah dalam menghadapi konflik sentarian melawan kelompok-kelompok ekstremis wahabi dan pasukan pendudukan AS dan Inggris.

Sementara itu dilaporkan, tidak lama setelah menguasai Mosul, ISIS membagi-bagikan liflet kepada penduduk yang isinya perintah untuk menjalankan sholat 5 waktu di masjid, larangan minuman keras dan para wanita untuk berpakaian sesuai syariah serta tidak berada di luar rumah tanpa ditemani muhrimnya. Selain itu juga berisi ancaman hukuman keras bagi siapapun yang dikeahui melanggar aturan tersebut, seperti dibunuh, disalib, dan dipotong tangan dan kaki secara manyilang.

Obama Dikecam
Sementara itu Presiden AS Barack Obama harus menghadapi kecaman para politisi partai oposisi Republik karena dianggap lambat bereaksi terhadap perkembangan kelompok-kelompok militan yang telah dicap AS sebagai teroris. Kelambanan itu pulalah yang menyebabkan Iran memiliki kesempatan mengirimkan pasukannya ke Irak.

Senator republikan John McCain menyerukan “langah drastis” untuk membalikkan ekspansi kelompk militan di Irak. Ia juga mendesak Obama untuk memecat tim keamanan-nya yang dianggap gagal.

Sementara Senator John Boehner menyebut Obama tengah “tidur siang” saat militan berbaris menuju Baghdad.

Pada hari Kamis (12/6), militan berhasil mencapai kota Dhuluiya yang berjarak hanya 80 km dari Baghdad.

“Kami akan berbaris menuju Baghdad karena kami ada perhitungan yang harus diselesaikan di sana,” tulis ISIS dalam situsnya.(ca/irish times/cnn)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL